Galungan

Tag

,

“For a man to conquer himself is the first and noblest of all victories.” (Plato)

Kutipan di atas sebenarnya untuk gagah-gagahan semata. Saya menyitirnya secara serampangan dari the one and only scripture of millennials: Google. Saya tidak pernah bersentuhan dengan karya-karya Plato. Sama sekali tidak. Paling banter, mengelus kulit sampul salah satu karyanya, Republik, di toko buku. Tindakan yang cukup arogan saya kira.

Kemenangan adalah satu kata yang sering diasosiasikan untuk memaknai Galungan. Dalam wiracarita Mahabaratha, Galungan menjadi semacam perayaan kemenangan anak-anak Pandu setelah berlaga di Kurusetra menghadapi perang yang melelahkan. Kemenangan dharma atas adharma, kata bapak/ibu guru sewaktu sekolah. Meskipun harus disadari, hal ihwal tentang kebenaran masih bisa diperdebatkan dan tidak akan habis-habis untuk diperdebatkan.

Tetapi, Plato agaknya benar. Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Dalam perayaan Galungan — setidaknya beberapa tahun terakhir — saya mendapati hari agung ini tidak lebih dari sekadar perayaan ego. Saya tidak sedang membicarakan orang lain, tetapi boleh menjadi otokritik terhadap diri sendiri. Tetapi, sulit juga bagi saya untuk menafikan perayaan Galungan di Bali jauh dari perayaan ego.

Lihat saja banten atau sesajen yang kita haturkan saat Buda Kliwon Dungulan tiba. Selain buah, janur, bunga, dan hasil bumi lainnya, banten Galungan bahkan sudah ditambah dengan makanan-minuman produksi pabrik. Bir kaleng misalnya. Sekali lagi, saya tidak punya otoritas menilai itu benar atau salah. Bukankah Hyang Widhi tidak basah oleh air, dan tidak terbakar oleh api? Apalagi hanya karena seonggok alkohol. Saya yakin seyakin-yakinnya, Beliau bisa mengontrol diri agar tidak mabuk. Dengan demikian, Ia tidak akan mengkhianati rencana-rencana-Nya.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari fenomena tersebut? Gampang saja. Minuman kaleng dan makanan pabrik yang dipersembahkan dalam sesajen Galungan adalah sebuah ekspresi manusia (Hindu) Bali kekinian. Di masa lalu, mungkin tidak ada makanan-minuman seperti itu karena corak masyarakat kita masih agraris. Sehingga, persembahannya adalah hasil-hasil bumi.

Kini, sawah sudah menyempit. Tegalan sudah beralih fungsi. Orang-orang Bali yang cemas bahkan menyayangkan janur dan kelapa daksina didatangkan dari luar pulau. Atau dalam istilah Ajik Senator cum Raja Majapahit, datangnya janur dari dauh tukad.

Ada pula kekhawatiran sebagian orang yang mempermasalahkan tampilan penjor yang konon telah jauh menyimpang. Bahan-bahannya serba praktis karena mudah dibeli. Orang tinggal memasang atau mengikatnya bukan lagi dengan tali tiying (bambu); tetapi tali rafia. Ketika beres, bentuknya dianggap nyeleneh. Muncullah istilah penjor yang jor-joran.

Adakah fenomena-fenomena itu sebagai sebuah kesalahan?

Saya harus kembali pada pernyataan saya sebelumnya bahwa saya sedang menemukan sebuah realitas perayaan ego ketika Galungan. Ego itu bernama kemajuan dalam terminologi kapitalisme. Inilah dunia industri. Yang terpenting adalah kecepatan; sesuatu yang instan. Ketika sawah dan ladang sudah tidak lagi ditanami penghasil pangan, salahkah mempersembahkan hasil pabrik? Ketika sebagian besar dari kita sudah melupakan sektor pertanian, apa lagi yang bisa dijadikan persembahan? Tidakkah itu karena ego demi sebuah kemajuan dan gegap gempita industri?

Galungan tampaknya dekat dengan gelungan. Gelungan dalam bahasa Bali berarti mahkota. Mahkota adalah lambang kekuasaan, sebuah legitimasi, atau simbol kejayaan. Di era sekarang, gelungan tidak semata menjadi penutup kepala. Ia sebentuk harga diri, kebanggaan, yang terus-menerus dikejar. Dalam politik praktis, gelungan adalah tampuk kekuasaan. Semua keputusan-keputusan politik berasal dari dinamika kekuasaan. Hasil bumi yang dulu sering digaungkan gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, perlahan, harus berhadapan dengan ego manusia untuk membangun kota-kota baru, ladang-ladang bisnis baru, sebagai syarat datangnya age of high mass consumtion.

Mungkinkah kita perlu menanggalkan gelungan, sejenak saja, untuk menyapa anak kecil yang barang kali masih ada di dalam diri kita sendiri?

(Widyartha Suryawan | Bersama gerimis di Kuta, 13 November 2017)

Iklan

Perjumpaan

20171108_105646

Saya mengajaknya pergi ke sebuah kedai kopi di Denpasar, malam itu. Untuk sementara ini, tidak ada tempat lain yang lebih pantas dikunjungi selain tempat ngopi. Mungkin karena saking berkembangnya bisnis kopi di Bali, yang ditandai dengan menjamurnya kedai kopi dari yang mungil sampai yang paling wah, saya jadi ikutan berdiri di barisan seruput.

Dengan agak saksama, lamat-lamat saya mulai belajar mencermati rasa dan aroma kopi yang saya teguk. Hingga akhirnya, beberapa bulan terakhir, saya berani memasukkan kopi sachet ke kasta terbawah dalam dunia perkopian. Selain karena rasanya yang mulai tidak bersahabat di lidah, manisnya sering tak terkontrol.

Saya memesan dua hot caffee latte kepada barista. Satu untuk saya, satunya lagi untuk dia. Kami memutuskan duduk di beranda agar lebih leluasa menikmati malam. Maksud saya, lalu-lalang kendaraan dengan kerlip lampu dan raung klakson yang nyaris tak pernah putus-putus.

Itu adalah perjumpaan pertama kami di penghujung Oktober yang panas. Seperti halnya perjumpaan terdahulu, baik dengan kamu atau dengan siapa saja, saya lebih banyak mendengar. Saya benci bercerita karena tutur kata saya tidak bisa dibanggakan. Tuhan sepertinya menciptakan saya sebagai seorang pendengar. Itupun tidak dilengkapi dengan daya ingat yang baik. Tetapi, saya yakin, itulah yang terbaik.

Dua cangkir hot caffee latte tersaji di meja kami. Sebelum meneguk dan latte art-nya hantjoer leboer, saya dan dia memotretnya terlebih dahulu. Itulah ritual paling konyol dari budaya manusia milenial. Hal-hal remeh terlalu sering lebih mendapat tempat. Kami sebenarnya menyadari hal itu. Toh, kami tetap merayakannya sembari menertawakan kajian-kajian akademik tentang citra-diri dengan teori-teori asing yang terasa sangat mengagumkan. Banal sekali.

“Ada yang ingin aku ceritakan,” ujarmu sembari menaburkan gula ke atas kopi, lalu mulai meneguk; dan menabur gula beberapa kali lagi karena menurutmu pahit sekali.

“Yu, itu gula sudah banyak sekali.”

“Hahaha.”

Kamu mulai bercerita. Dari yang sudah akan hingga yang paling angan. Dari yang benar-benar ingin saya dengar, sampai hal-hal yang sebenarnya paling ingin saya hindar.

Sebagaimana galibnya doa, cerita-ceritamu itu sebenarnya kumpulan harapan yang penuh dengan semoga. Terutama soal keinginanmu untuk hidup di negeri asing dan jauh dari orang-orang yang setiap hari hanya mengurusi hidup orang-orang yang lain.

Saya juga pernah membayangkan hal yang hampir sama: Pagi hari, ketika baru terjaga, akan ada kilau langit yang lebih menggairahkan. Atau, bau tanah basah dan aroma kayu yang lebih mendamaikan. Sebuah dunia dengan orang-orang ‘telanjang’ tanpa harus berpura-pura.

Kita selalu gampang terbuai oleh keindahan asing yang tak pernah kita kenal sebelumnya. Saya curiga, jangan-jangan, itu hanya sebuah pelarian sebab tak mampu berdamai dengan keadaan sekarang. Ada sesuatu dari diri kita yang telah dicuri oleh adab modern ini. Saya tidak mengutuk modernisasi sekaligus tidak sudi kembali pada zaman primitif. Namun demikian, saya yakin masih ada nilai atau kearifan dari adab lampau yang masih layak mendapat tempat hari ini. Hanya, karena kurang populer, kita dengan mudah mengumpatnya.

Manusia konon disebut juga sebagai makhluk simbolik (homo symbolicum) yang suka dengan tanda-tanda. Tetapi, petaka seolah akan datang ketika tanda-tanda itu mulai dimaknai melalui tanya-tanya. Tanpa pernah disadari, tanya-tanya itu telah menciptakan cabang-cabang kehidupan yang begitu rumit dan akhirnya melilit diri sendiri.

Orang-orang yang merasa hidupnya baik-baik saja, mungkin sedang tidak ingin masuk ke dunia tanya yang dalam itu. Sementara kita, yang seolah sudah berjalan sesuai marka dan penuh kehati-hatian, pada akhirnya selalu merasa kehilangan.

“Lalu, solusinya apa? Memaksa orang-orang yang tidak pernah merasa berdosa untuk berkenalan dengan Descrates? Konyol!”

“Selama masih ada kopi, bukankah kita masih bisa berjumpa — kemudian mengusahakan solusi meski waktu tak pernah berjanji?”

“Kamu tidak punya selera humor!”

(Saniscara Kliwon Kuningan, 11 November 2017)

Johnboy dan Tatto Rerajahan Tradisi Bali

IMG_20171105_105139

Gede Boyke Himawan sedang merajah tangan kanan Ketut Toris ketika saya mengunjungi Summer Ink Seven di Kuta, Senin (6/11/2017). Jarum dan tinta meliuk-liuk di atas kulit ari Toris. Sembari rebahan di atas matras, mata Toris tampak merem melek. Suara gamelan baleganjur yang diputar Johnboy – demikian nama beken Gede Boyke Himawan – memenuhi sudut-sudut ruangan.

“Sakit itu relatif, saya lebih baik tidur sambil menikmati. Hahaha,” seloroh Toris.

Itu adalah tatto ketiga yang menghiasi tubuh Toris, yaitu sebuah gambar Buddha bergaya realis. Di lengannya sudah terlebih dahulu dihiasi gambar Ganesha. Kalau saja dari dulu istrinya mengizinkan membuat tatto, Toris kira seluruh tubuhnya sudah dipenuhi dengan tatto. Belakangan, justru istrinya yang ikutan membikin tatto di lengan kanannya.

“Sekarang, kalau sedang senggang, saya pasti terus menambah tatto karena sudah mendapat lampu hijau dari istri,” imbuh Toris yang seorang juragan babi guling ini.

Johnboy, sang seniman tatto, mengaku secara profesional menekuni dunia tatto di Kuta sejak tahun 2005. Awalnya, ia hanya membuat tatto secara tradisional di kampung halamannya, di Desa Sidatapa, Buleleng. Lulusan UNHI Denpasar ini secara khusus mendalami rerajahan Bali, meskipun ia juga tetap meladeni konsep yang diinginkan customer.

“Idealisme agak dikesampingkan karena sudah terjun di dunia profesional, tetapi basic saya tetap rerajahan tradisional Bali,” ujar Johnboy.

Bila memperhatikan beberapa studio tatto yang menjamur di kawasan Kuta, studio Johnboy memang memiliki keunikan tersendiri. Dalam bekerja, ia menggunakan kain dan senteng khas Bali. Hal itu, kata dia, merupakan panggilan hatinya sendiri untuk menjaga taksu. Terlebih lagi, Johnboy termasuk seniman tatto yang ngiring. Ia tidak boleh membuat tatto bergambar barong, rangda, maupun celuluk.

“Itu sudah petunjuk sesuhunan, tidak boleh tiyang langgar,” imbuhnya.

Bagi Johnboy, tatto tidak terlepas dari
art, culture, and lifestyle. Atau, bisa juga menjadi ekspresi spiritual bagi beberapa orang. Ia menyadari, sejak tahun 2010, studio tatto semakin menjamur di Kuta. Namun demikian, sebagai pegiat rerajahan tradisi, ia tidak pernah merasa ada persaingan. Sebab, menurut dia, taksu tidak bisa diperjualbelikan.

“Kalau sudah merasa bersaing, itu bukan taksu namanya, tapi ego. Taksu itu mensyukuri, dapat atau tidak dapat pelanggan,” imbuhnya.

Johnboy menjelaskan, tahap pembuatan tatto mulai dari permintaan customer. Setelah deal gambar yang akan dibuat, dimulailah menyiapkan peralatan seperti jarum dan tinta. Karena kulit orang Asia lebih kuat dari orang Eropa, maka digunakan tinta khusus. Setelah membuat outline pada bagian tubuh pelanggan, selanjutnya dikover menggunakan plastik untuk sterilisasi agar tidak terkena debu. Oleh karenanya, pembuatan tatto harus dilakukan secara indoor.

“Dulu orang di pinggir jalan buat tatto sambil merokok, sekarang gak boleh. Yang paling utama, alat harus steril,” sambungnya.

Ada aturan tersendiri yang diterapkan Johnboy. Secara internasional, orang diperbolehkan membuat tatto minimal berumur 18 tahun. Sehingga, bila ada anak-anak sekolah yang ingin membikin tatto di studionya, ia harus mendapat izin dan mengajak orang tuanya. Sebab, menurutnya, anak yang masih sekolah belum pantas merajah tubuh dengan tatto.

“Membuat tatto adalah keputusan terbesar dalam hidup, karena membawa memori panjang. Aturan itu saya berlakukan baik untuk orang lokal maupun bule,” imbuhnya.

Karya tatto Johnboy kebanyakan diminati oleh wisatawan Australia, Belanda, Swedia, Inggris, dan Prancis. Tetapi, yang secara khusus menyukai rerajahan tradisi Bali, lebih banyak diminati bule Australia dan Belanda. Untuk harga, bagi orang asing dikenakan tarif Rp 1,5 juta per jam. Sedangkan, untuk orang lokal, ia menyebutnya sebagai harga nyama.

“Orang asing lebih bisa menghargai seni, jadi dia sudah mengerti. Kalau orang lokal, bisa pakai harga nyama,” imbuh Johnboy sembari melempar senyum.

Widyartha Suryawan | 6 November 2017

 

 

Kopi adalah Nyawa

Kopi adalah nyawa.

Setidaknya itulah kunci perbincangan Roby ‘Navicula’ dan Muhammad Aga dalam Nusa Dua Coffee Week di Peninsula, Nusa Dua, Kuta Selatan, Sabtu (14/10). Bagi Roby, seniman dan kopi adalah dua hal yang saling berkelindan. Tidak ada kopi, tidak bisa berkarya. Bahkan, ia meyakini proses pembentukan negara ini juga lekat dengan perjamuan-perjamuan di atas meja kopi.

“Saya pernah jalan-jalan ke Aceh. Ternyata, gencatan senjata pun bisa bermula di atas meja kopi, seperti konflik GAM. Di luar sana mereka berperang, tetapi di kedai kopi bisa berkawan,” ujar Roby.

Sebagaimana diketahui, Roby merupakan gitaris sekaligus vokalis band green grunge — Navicula — yang karya-karyanya lebih banyak mengangkat kritik sosial dan isu-isu lingkungan. Selain seorang musisi, Roby juga seorang petani kopi. Ia mengaku agak shock ketika media menyebut mayoritas petani kopi di Indonesia saat ini berumur di atas 45 tahun. Hal itu semakin mengkhawatirkan karena anak muda yang mau meneruskan menjadi petani kopi hanya 3 persen.

Padahal, ia percaya bahwa keberhasilan produk pertanian sangat erat kaitannya dengan kemandirian, manfaat, dan keberlanjutan. Ia mengaku tidak malu menjadi petani.

“Semakin dekat jarak makanan yang ada di meja makan dengan sumbernya, menentukan semakin baik kualitas makanan tersebut. Demikian juga dengan kopi. Kopi  sebagai gaya hidup, seharusnya diikuti dengan minat anak muda untuk bertani kopi,” imbuhnya.

IMG_20171014_160413

Ia menyinggung soal kopi yang telah menjadi budaya populer (pop culture). Budaya minum kopi sebenarnya sudah ada sejak dulu. Di kampung-kampung di Bali, hampir tidak ada kegiatan adat yang tanpa ‘departemen’ kopinya. Secara kultural, kata dia, kopi adalah media pencair suasana.

“Dulu, orang memandang kopi sebagai minuman orang tua. Sekarang, anak-anak muda nongkrong di kedai kopi sekaligus menjadikannya sebagai ruang publik dan creative space,” imbuhnya.

Sementara itu, Muhammad Aga, seorang barista yang juga pemain film Filosofi Kopi 2 lebih menyoroti soal perkembangan industri kopi. Sudah dua tahun ia berkolaborasi dengan petani kopi di lereng Gunung Arjuno, Jawa Timur. Kedekatannya dengan petani itu dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan agar petani bisa menjaga kualitas kopinya.

“Barista itu seharusnya juga perlu menjadi seorang story teller untuk mempromosikan kopi terbaik Nusantara. Itu bagian bagian dari edukasi kepada konsumen agar mereka tahu kisah-kisah lain di balik secangkir kopi,” ujar Aga.

Baik Roby maupun Aga sepakat bahwa edukasi tentang kopi penting bukan saja untuk petani, tetapi juga bagi penikmat kopi. Petani kopi perlu mendapat edukasi misalnya agar mereka paham untuk menjaga rantai ekosistem. Dengan demikian, mereka tidak menggunakan pestisida secara berlebihan karena berdampak pada hasil produksi. Sedangkan, edukasi bagi penikmat kopi bisa menggugah mereka untuk berani bertani. Berani pergi ke ladang menanam dan kemudian memanen kopi.

“Menjadi barista keren. Menjadi petani kopi juga tidak kalah keren,” demikian kira-kira benang merah pembicaraan Roby dan Aga.

Lalu, sudah ngopikah anda hari ini?

(Widyartha Suryawan, ditemani kopi vietnam)

Egois

 

Belakangan ini saya suka mengoleksi kutipan-kutipan yang demikian berserak di berbagai media sosial. Kadang saya unduh bila berupa jpg., screen shoot bila sinyal internet tiba-tiba lemot, ataupun saya siar-ulangkan di dinding akun saya. Pada saat bersamaan, intensitas membaca buku saya berkurang – tergantikan oleh kutipan-kutipan yang terkadang bikin baper itu. Misalnya, saya pernah menemukan kutipan di twitter yang bunyinya begini: If you want to go quickly, go alone. If you want to go far, go together.” Konon, itu adalah pepatah Afrika kuno.

Saya agak memikirkan pepatah kuno itu. Ia terngiang-ngiang di kepala saya, lalu diam-diam setuju dan membenarkannya. Mungkin karena saya merasakan hal yang sama sehingga kutipan itupun terasa gue banget.

Begini.

Setelah membaca pepatah itu, saya jadi memikirkan diri sendiri. Saya tiba-tiba merasa begitu egois karena ingin segala sesuatunya serbacepat. Oleh karena itulah saya lebih senang melakukan semuanya seorang diri.

Sewaktu kuliah – juga saat masih di bangku sekolah – misalnya, saya selalu berharap diberikan tugas individu. Kalaupun ada tugas kelompok, saya sering rela mengerjakannya sendiri. Semua beres tepat waktu meskipun dengan kemampuan akademik yang biasa-biasa saja dan juga pas-pasan.

Tidak hanya itu, setelah berkontemplasi, ternyata saya egois dalam banyak hal. Sebagaimana pepatah kuno tadi, saya nyaris tidak berpikir bahwa ada suatu masa ketika kita menempuh perjalanan begitu jauh. Ia pasti melelahkan. Sangat melelahkan. Dalam perjalanan panjang itulah, kita akan sadar bahwa setiap individu memiliki keterbatasan. Ini yang sepertinya gagal saya pahami.

Sebagai orang egois, saya hanya melakukan apa yang ingin saya kerjakan. Seperlunya. Kalau ditanya dengan siapa biasanya saya mengerjakan sesuatu atau dengan siapa saya membicarakan masalah sehari-hari, saya tidak bisa menjawab. Saya tidak seperti orang yang segala sesuatunya bisa diceritakan kepada orang lain. Bahkan ketika ditanya, siapa teman atau orang terdekat saya, satu nama pun tidak bisa terucap. Lagi-lagi, kutipan yang tidak sengaja saya temukan itu menyadarkan betapa tertutupnya saya.

Pernah, ketika pacaran dengan seseorang yang sekarang sudah menjadi mantan, sikap egois saya itu begitu mendominasi. Kami berkenalan, kemudian dekat, dan resmi berpacaran. Saya pamerkan buku-buku yang pernah saya baca pada dia. Agak narsis memang. Saya katakan, dia perlu membacanya karena ceritanya menarik. Maka, saya pinjami dia beberapa judul buku. Setelah dikembalikan, saya berharap kami akan membicarakan sesuatu dari apa yang ditangkap setelah membaca. Menurut saya itu sangat menarik dan bukan gaya pacaran yang mainstream.

Tapi hubungan kami tidak lama. Dia yang mengatakan saya egois meskipun saya tidak tahu egois apanya. Katanya, saya terlalu sibuk dengan diri sendiri. Dia sempat marah ketika tahu saya merokok. Memang dia pernah bertanya, saya merokok atau tidak.

“Aku nggak suka cowok perokok,” ujarnya pada kencan pertama.

Saya bilang saja kadang-kadang, tidak sering. Tidak mengarang. Memang demikian adanya. Sehari satu sampai tiga batang. Kadang tidak sama sekali.

Sejak dia marah karena saya ketahuan merokok, sepertinya masalah datang bertubi-tubi. Hubungan kami diambang kehancuran. Dan, benar saja, tak lama kemudian kami putus.

Jauh beberapa lama setelah membaca pepatah kuno itu, ternyata saya tak benar-benar memperbaiki diri. Saya masih tetap egois.

Baru-baru ini, teman saya, perempuan, menyapa lagi setelah lama tak saling menghubungi lewat aplikasi Line. Kok tumben? tanya saya. Katanya, dia habis membaca tulisan saya sebelumnya di blog ini dan iseng saja menyapa saya. Dulu saya dan dia sempat dekat. Hanya saja saya kurang peka dan tak menghiraukannya begitu saja. Saya sering mengabaikan chatnya.

Saya ingin menjadi lebih adil. Untuk menebus kesalahan itu, kali ini saya lebih membuka inisiatif untuk sekadar mengajaknya ketemu. Kami janji akan pergi ke pantai. Dulu, dulu sekali. Tapi baru terwujud belum lama ini. Sebelumnya, saya sudah menjemputnya tetapi batal karena cuaca sepertinya tidak mendukung. Maka, kami sepakat untuk pergi makan saja. Selesai makan, cuaca mendadak cerah. Hari sudah sangat sore.

“Kita ke pantai sekarang saja,” ajaknya.

“Ini sudah sore. Sampai di sana pasti sudah gelap,” sergah saya.

“Terlalu banyak mikir! Kita jalan saja, pokoknya ajak aku ke sana! Yang penting kita jalan.”

Dengan berat hati saya mengikuti permintaannya. Saya antar dia ke pantai di ujung selatan pulau dari Denpasar. Kurang lebih satu jam kami sampai. Sekitar pukul tujuh petang. Dan gelap.

“Mau turun?” tanya saya di atas motor.

“Nggak, kita balik saja. Kapan-kapan ke sini lagi.” jawabnya.

Saya mengangguk.

Setelah itu, saya lebih ingin memulai percakapan dengannya. Saya mengajaknya ke pantai karena sebelumnya sudah keburu malam. Kami sempat bercakap tentang berbagai hal. Dia mengatakan dirinya gagal menjadi manusia urban. Dia juga cerita soal dosennya yang tiba-tiba menghapus pertemanannya di salah satu media sosial karena sang dosen rujuk dengan mantan kekasihnya. Atau soal ketertarikannya dengan teori-teori posmo; sementara saya katakan teori-teori itu berada di langit dan tak pernah menyentuh bumi.

Saya menikmati percakapan-percakapan seperti itu. Ingin sekali saya bisa berbincang tentang hal-hal yang jarang dibicarakan oleh banyak orang. Saya memikirkan dan membutuhkan dia. Tetapi, tampaknya kini dia yang tak antusias. Saat coba saya chat, giliran dia yang tak menghiraukan. Gayung tak bersambut.

Mungkin itulah hukuman menjadi orang egois.

(24 Februari 2017)

I.

Pukul dua belas kurang sepuluh. HP saya berdering. Teman saya, perempuan, mengirim pesan: “aku galau..”

“Galau kenapa lagi?” saya membalas.

“Gak tau nih, cari angin yukk..”

“Yuk, beli es krim.”

“Aku siap-siap dulu.”

“Oke.”

Setelah memakai jaket dan tentu saja helm, saya menjemput teman saya itu. Jarak rumah kami cukup dekat, sehingga tidak perlu menempuh waktu yang lama untuk menjemputnya. Ketika naik ke atas motor, dia memastikan apakah saya tidak keberatan keluar malam-malam. Saya jawab tidak masalah.

Kami pun menuju salah satu restoran cepat saji, simbol kapitalisme global milik antek nekolim itu. Sebenarnya kami agak ragu karena langit malam semakin kelam oleh mendung. Untung tidak hujan. Di perjalanan, saya mencoba membuka percakapan. Teman saya masih saja tidak mau cerita soal kegalauannya. Dia sangat sering begitu. Saya menebak dia galau karena (mantan) pacarnya. Tapi dia tidak pernah mengiyakan.

Di tempat tujuan, kami duduk saling berhadapan. Teman saya tidak bisa jauh dari gawainya. Padahal ada saya yang bisa diajak ngobrol. Saya mengingatkan untuk segera menghabiskan es krimnya biar tidak meleleh. Eh dia malah asik berswafoto.

“Jarang lo aku selfie di depan cowok,” ujarnya sembari memandang terus layar gawai dengan pose terbaiknya.

“Jadi kamu galau kenapa? Dari tadi nggak ada tampang galau.”

Teman saya menaruh ponselnya di atas meja, lalu melahap es krim yang sudah mencair. Dia hanya menjawab, galau aja.

***

Suatu hari, I bercerita soal keluarganya. Orang tua kandungnya sudah lama cerai, sedangkan ayahnya menikah lagi dan dikaruniai seorang putri. Sejak kelas empat SD, mama kandung I bekerja di Turki. Sejak itu pula I dan adik kandungnya, laki-laki, lebih banyak diasuh oleh neneknya yang dua tahun lalu meninggal.

“Aku lihat sendiri ayah dengan perempuan lain. Seperti anak kecil pada umumnya, waktu itu aku ceritakan langsung pada mama,” kenang I.

Kesaksian dan pengaduan I membuat mama dan ayahnya cekcok. Ayah I lalu marah-marah dan ngamuk saat I sedang belajar. I menangis. Besoknya, pulang sekolah, mamanya sudah tidak di rumah. Barang-barang serta pakaiannya juga tidak ada.

“Meskipun pahit, kejadian itu tidak pernah aku lupakan sampai sekarang,” imbuh I yang kini kuliah di salah satu perguruan tinggi jurusan Sastra Inggris.

Saat ini I bersama ayah dan mama tirinya. Ia masih berhubungan dengan mama kandungnya meskipun hanya lewat media sosial. I juga sering dikirimi uang dari negeri Turki sana.

Dalam pergaulan di lingkungan kami, teman saya ini dikenal cukup tertutup. Kalau anak-anak mudanya berkumpul untuk sekadar ngobrol sampai bergosip ria, bisa saja dia menjadi salah satu topik perbincangan. Dari hal-hal remeh hingga yang jaruh-jaruh. Saya pernah mendengar beberapa kali. Hampir tidak ada citra positif yang disematkan pada teman saya itu oleh bibir-bibir mereka.

Mungkin karena saya cukup tertarik membaca filsafat, saya tidak bisa menilai orang hanya karena apa yang terlihat. Misalnya soal tatto di perut dan paha, juga tindik di hidung kirinya. Barangkali inilah yang disebut Chris Barker sebagai subkultur, yaitu sebuah ruang yang direpresentasikan oleh budaya ‘menyimpang’ untuk menegosiasikan ruang bagi dirinya sendiri. Teman saya ini singkatnya sedang berlawan.

I tidak hanya ‘aneh’ secara penampilan, tetapi juga terhubung dengan genere musik kesukaannya. I kerap menertawai pilihan musik saya yang dianggap sebagai musik pengantar tidur. Wajar saja, I adalah pendengar setia Asking Alexandria, Bullet for My Valentine, Bring Me The Horizon, dan sejenisnya. Sesuatu yang lain untuk seorang perempuan, bukan?

***

Sebelum mengantarnya pulang, saya katakan pada I bahwa dia sebenarnya perlu orang yang bisa menasehatinya. Mata I berkaca-kaca. Air matanya membasahi pipi.

“Banyak hal yang ingin kamu ceritakan, tapi kamu enggan bicara karena orang lain kamu anggap tidak akan pernah mengerti jalan pikiranmu, kan?”

I mengangguk.

“Kamu hanya perlu orang yang bisa memberimu nasehat,” saya ulangi sekali lagi sembari bangkit dari tempat duduk. I menyusul berdiri. Saat akan mengenakan jaket, tatto di bawah susunya yang ranum samar-samar terlihat dari tangtopnya yang kekecilan. Demikian pula tatto di paha yang tampak malu-malu ditutupi hotpants I.

“Nanti aku mau tambah tindik lagi, ah,” bersitnya.

Saya tersenyum.

Sebentar lagi subuh. Kami pun pulang.

Widyartha Suryawan
8 Desember 2016, hujan rintik-rintik

Semacam Epilog: Merekam Bali

Tag

,

Tibalah pada minggu ke-delapan. Itu berarti, berakhir pula episode #MerekamBali untuk menuliskan Bali setiap hari secara bergantian di blog masing-masing. Tulisan (pertanggungjawaban) ini sendiri terbit pada minggu ke-sembilan. Dan itu juga berarti sebuah peringatan bagi diri saya, untuk lebih disiplin lagi mengatur waktu.

Seperti dikatakan Bli Eka, tulisan terakhir untuk #MerekamBali sebenarnya bukan tulisan terakhir untuk dapat memahami Bali. Seyogianya, selepas ini, banyak hal yang bisa ditulis dari Bali. Paling tidak, saya mencatat tiga hal penting dari proyek menulis blog selama delapan minggu ini.

Pertama, Bali ternyata sangat luas. Tentu bukan secara geografis, tetapi kompleksitas permasalahan yang ada di dalamnya. Tidak jarang, selama mengerjakan proyek ini, kami sempat kebingungan (kecuali Mas Saka Agung, karena konsisten menulis tentang kelautan dan perikanan di Bali): minggu ini mau nulis apa ya? Tentu bukan karena tidak ada hal apapun yang pantas direkam dari Bali, tapi karena demikan kompleksnya Bali lah yang sebenarnya menyebabkan kebingungan itu. Beberapa tulisan justru berangkat dari pengalaman sehari-hari yang terbersit saat menulis. Ada yang sekaligus merefleksikan, ada pula yang hanya ingin menarasikan.

Kedua, Bali ibarat dua sisi mata uang. Saya, Bli Eka, dan Mbok Candra melihat dari sisi yang sama sebagai orang Bali. Sedangkan Mbak Happy dan Mas Saka Agung mewakili pendatang yang pernah dan masih bersentuhan dengan Bali. Sisi pertama, sebagai orang Bali, sangat tampak ada kegelisahan dan sesuatu yang berubah dari Bali. Sebagai contoh, saya misalnya sempat menulis tentang lanskap bukit di desa saya yang berubah. Eka memotret kemacetan sebagai salah satu indikator pembangunan yang tumpang tindih. Demikian pula Candra yang resah ketika perpustakaan umum selalu sepi ketimbang mal-mal yang semakin marak.

Sisi berikutnya, Happy dan Saka Agung memandang Bali dari apa yang mereka rasakan selama berproses dan tumbuh di Bali. Meskipun demikian, tulisan-tulisan mereka juga mewakili beberapa kekhawatiran. Dalam Lingkungan Desa dan Para Urban, Happy ingin menyampaikan ihwal interaksi sosial di lingkungannya yang tidak peduli satu sama lain:

Kami hidup berdampingan dan menjalani kehidupan masing-masing, tanpa saling peduli. Kaum urban dengan pekerjaan mereka kebanyakan di sector jasa atau usaha, sementara penduduk asli sebagian besar beternak, berdagang dan bertani. Kami sering bersinggungan, tanpa saling sapa dan saling ingin tahu. Untuk urusan administrasi, desa dinas melayani sama adilnya antara kaum urban maupun masyarakat adat, sementara desa adat tetap berjalan sebagaimana mestinya.”

Yang paling konsisten, sebagaimana saya sebut di atas, tentu Saka Agung. Ia merekam Bali dari perspektif keilmuannya yaitu kelautan dan perikanan. Ia membukakan perspektif baru bahwa di perairan sendiri ternyata bisa terjadi penjajahan. Masuknya ikan zebra di Danau Beratan disinyalir menjadi bentuk invasi ikan asing terhadap komunitas ikan asli di perairan tersebut. Menarik sekali.  Saya iri dengan Saka Agung karena ketika menulis ini baru sadar kalau saya sedikit sekali menyinggung Bali dengan keilmuan yang saya pelajari di kelas-kelas perkuliahan.

Ketiga, tulisan-tulisan dalam #MerekamBali adalah bentuk kepedulian masing-masing penulisnya terhadap pulau mungil ini. Saya membayangkan suatu hari kami dapat merevisi tulisan-tulisan dalam proyek ini untuk kemudian diterbitkan menjadi buku. Kendati tidak berisi pikiran-pikiran besar, buku itu dapat menjadi sumbangsih kami terhadap siapa saja yang peduli dengan Bali.

Semoga.

Widyartha Suryawan
24 November 2016

Balebengong dan Hal-hal yang Tak Terdengar

Tag

, ,

Sebagai portal yang menjadi wadah jurnalisme warga pertama di Bali, Balebengong menghelat Citizen Journalism Day 2016. Acara tersebut dilaksanakan di Taman Baca Kesiman (TBK) pada 12 November 2016.

cjd2016

Saya datang sangat terlambat, sekitar pukul 19.30 – padahal mulainya sejak 15.00 – sehingga banyak mata acara yang terlewatkan. Sampainya di TBK, dialog bertajuk Warga Bersuara sudah memasuki sesi tanya-jawab. Ada tiga warga yang didaulat untuk bicara malam itu: Kadek Dwi Armika (undagi layang-layang Bali asal Sanur yang mendapat penghargaan internasional), Linda Anugerah (seorang filantropis sekaligus pendiri Yayasan Angel Heart Bali), dan Ida Bagus Kade Suwartama. Dua yang pertama saya kelewatan, sedangkan yang terakhir saya hanya mengikuti sejenak.

Ida Bagus Kade Suwartama, sering disapa Gus Kembar, adalah seorang kelian di Banjar Masean, Batuagung, Jembrana. Dia lah yang mengkoordinasikan penggalian kuburan para korban pembantaian G/30S di banjarnya. Penggalian tersebut dilanjutkan dengan pemberian upacara menurut keyakinan setempat agar roh-roh para korban mendapat tempat layak.

“Ini murni misi kemanusiaan, tidak ada kepentingan politik di dalamnya,” begitu kira-kira cerita Gus Kembar yang sempat saya ingat.

Penggalian kuburan korban pembantaian 65 itu sebenarnya dicetuskan oleh beberapa warga setempat dan sempat menuai pro kontra. Di satu sisi, warga menilai mengungkit sejarah kelam itu akan menimbulkan trauma yang mendalam dan isunya masih sangat sensitif. Di sisi lain, lingkungan Banjar Masean seolah memberi pesan bahwa daerah mereka sedang tidak baik-baik saja – setidaknya secara niskala.

Menurut Gus Kembar, sebelum penggalian kuburan dan upacara dilakukan, banyak tanda-tanda aneh yang dialami oleh warga banjarnya. Misalnya suara anjing yang melolong saat tengah malam, kemudian disusul dengan kematian salah satu warga keesokan harinya karena bunuh diri. Hal ini terjadi hampir setiap tahun; di mana ada saja warga setempat yang mati secara tidak wajar. Warga banjar Masean juga sering melihat penampakan manusia tanpa kepala. Juga kejadian-kejadian aneh lainnya. Tidak hanya satu atau dua warga yang mengalaminya, tetapi banyak warga. Dari rangkaian kejadian itulah Gus Kembar meyakini itu bukan cerita yang sengaja dikarang warganya.

image13

Suasana dialog Warga Bersuara

Bagi saya, mendengarkan cerita Gus Kembar – meskipun tidak dari awal – adalah kesempatan langka. Terlebih lagi soal sejarah 65 yang penuh misteri itu. Saya amat bersyukur, ketika kuliah sempat berinteraksi dengan beberapa orang dengan bacaan dan pengetahuan yang agak aneh. Ihwal 65 ini misalnya. Beberapa kawan, baik personal maupun dalam diskusi-diskusi bahkan mempertanyakan kemapanan sejarah yang kita pelajari di bangku sekolah. Bila dalam pelajaran sejarah kita diajarkan melihat peristiwa 65 sebagai ulah PKI; maka dalam versi kawan-kawan itu PKI hanya menjadi kambing hitam. Kelompok ini menilai justru Suharto lah – yang menyebut gerakan itu sebagai upaya penyelamatan stabilitas nasional, kemudian dianulir sebagai tonggak Hari Kesaktian Pancasila – ada di balik pembantaian masal itu.

Karena kekuasaan Orde Baru yang sentralistik dan otoriter, juga tidak ada kebebasan berpendapat apalagi berseberangan dengan pemerintah; saya cenderung meyakini sejarah versi kawan-kawan saya yang aneh, yang sering berapi-api ketika bicara tentang kiri, juga keagungan revolusi. Saya sebut saja sebagai sejarah alternatif. Sebab sejarah adalah negeri asing, membaca versi alternatifnya seperti sebuah tamasya yang menyenangkan. Berkat kawan-kawan yang aneh di masa kuliah itu pula, saya kemudian tertarik membaca beberapa buku yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Ihwal 65, saya sempat membaca Sisi Gelap Pulau Dewata karya Geoffrey Robinson dan Ladang Hitam di Pulau Dewata karya Ngurah Suryawan. Tentu saja saya tidak membaca habis kedua buku ini. Oya, saya termasuk tipe pembaca yang malas; dan saya tidak pernah merasa berdosa jika membaca buku tidak sampai tuntas. Anggaplah itu bentuk kuasa saya, sebagai seorang pembaca, terhadap teks. Tetapi sebaiknya kebiasaan saya yang suka membaca setengah-setengah itu jangan ditiru. Itu sangat berbahaya.

Yang ingin saya sampaikan sebenarnya hanya begini: meyakini sejarah versi Orde Baru atau sejarah alternatif adalah sebuah pilihan. Di alam demokrasi, ketika ada perdebatan dan banyak suara  yang berlainan dalam sebuah peristiwa sejarah, sebaiknya pelajaran sejarah di sekolah-sekolah tidak dipaksakan untuk melegitimasi hanya sejarah versi tertentu. Siswa perlu diberi keleluasaan untuk menimbang-nimbang versi yang berlainan itu. Dengan demikian, demokrasi tidak hanya menyangkut ranah sosial-politik, tetapi ia dapat diterapkan dan dibangun di ruang-ruang kelas. Sebab, seperti kata Dee Lestari, sejarah itu serupa awan yang menggumpal; dan ketika kita menyentuhnya, sebenarnya ia sangat rapuh.

Menyuarakan yang Tak Terdengar
Setelah sesi Warga Bersuara, acara dilanjutkan dengan pengumuman dan penyerahan hadiah kepada pemenang Citizen Journalism Award 2016. Balebengong sebagai penyelenggara memberikan waktu dua bulan bagi warga yang ingin berpartisipasi mengirimkan karyanya dengan tema “Menyuarakan yang Tak Terdengar”. Karya yang masuk secara langsung dipublikasikan di web balebengong.net. Panitia kemudian mengklasifikasikan penghargaan untuk pewarta warga itu menjadi empat kategori, yaitu tulisan, video, suara, dan foto/poster.

Seperti temanya, menurut saya Balebengong telah berhasil menjadi pelopor jurnalisme warga di Bali. Kalau kita tengok websitenya, sebenarnya bukan dalam even Citizen Journalism Award 2016 saja kisah-kisah yang tak terdengar itu mendapat ruang untuk disampaikan ke publik. Di luar karya-karya itu, saya rasa upaya Balebengong membumikan jurnalisme sudah berhasil memotret suara-suara yang tak terdengar bahkan sebelum kegiatan ini berlangsung. Hambatannya tentu ada. Sebagaimana hal lain yang tergolong ‘alternatif’, peminatnya tentu tidak sebesar media arus utama.

Roberto Hutabarat, salah satu juri dalam kegiatan ini mengatakan, jurnalisme warga yang dikampanyekan Balebengong bahkan telah menjadi jurnalisme subaltern. Saya mengenal istilah ini ketika kuliah, tepatnya dalam mata kuliah Ekologi Politik. Kelompok subaltern adalah kelas-kelas yang menjadi objek oleh sistem kekuasaan yang menghegemoni. Kelas-kelas inilah yang tidak memiliki akses kekuasaan, sehingga keberadaannya selalu sebagai ‘korban’ dari sistem yang hegemonik, termasuk institusi-institusi sosial maupun kultural.

Karya-karya yang masuk dalam Citizen Journalism Award 2016 pada umumnya menyoroti hal-hal lain yang tidak digarap oleh media arus utama. Maka, tidak berlebihan bila Roberto menyematkan istilah jurnalisme subaltern mengingat yang tak terdengar pada akhirnya punya kesempatan untuk didengar. Sebuah upaya mulia sesungguhnya telah dilakukan Balebengong di tengah kecenderungan media hari ini: suara akan terdengar jika berbayar.

Balebengong berdiri jauh dari kecenderungan itu, sebab ia adalah milik warga.

Widyartha Suryawan
14 November 2016

Reklamasi Juga Soal Adab Laut yang Kalah oleh Adab Daratan

Tag

,

Ini adalah minggu ke tujuh untuk proyek menulis kami, #MerekamBali. Kali ini saya ingin berbagi pandangan soal rencana reklamasi Teluk Benoa. Saya memilih menggunakan judul yang agak panjang – tetapi tentu lebih panjang perjuangan masyarakat Bali yang gigih menjaga kawasan suci tersebut. Mungkin sangat terlambat karena saya menuliskannya baru sekarang. Anggaplah tulisan ini menjadi semacam penegasan sikap, meskipun apa yang saya tulisakan nanti bukan hal baru dan mungkin sudah banyak diulas dalam kajian-kajian atas persoalan ini.

***

Saat ini pariwisata Bali berada di persimpangan jalan. Gubernur Bali periode 1978-1988, Ida Bagus Mantra, pernah mengonsepkan pariwisata Bali yang mengedepankan alam dan kebudayaannya. Gagasan itu tampaknya tidak ditangkap oleh generasi penerusnya. Jadilah industri pariwisata yang cenderung mengekor pada rantai kapitalisme. Eksploitasi lingkungan, privatisasi, alih fungsi lahan – menyebabkan alam rusak di sana-sini. Kebudayaannya, tarian-tarian sakralnya, ritual-ritual keagamaannya, menjadi komoditas yang komersil. Atas nama pariwisata, semua diperdagangkan. Kita pun menjadi hafal baris kegetiran “Sajak Pulau Bali” karya penyair WS Rendra: Di Bali: pantai, gunung, tempat tidur dan pura, telah dicemarkan.

Pemaksaan kehendak penguasa-pengusaha mereklamasi Teluk Benoa bisa saja menimbulkan dampak termarginalisasinya masyarakat setempat, bahkan masyarakat Bali secara umum. Hal ini dikarenakan pemerintah, sepertinya, tidak mau mendengarkan tuntutan masyarakat. Baik gubernur maupun DPRD selalu lempar tanggung jawab dan mengatakan keputusan reklamasi berada di tangan presiden. Padahal, kalau saja kedua lembaga ini punya ikhtiar mendengarkan suara rakyat Bali, langkah-langkah politik-birokrasi bisa diupayakan.

Sosiolog University of Sussex, David Harrison, dalam buku The Sociology of Modernization and Devlopment (1988) mengungkapkan wacana pembangunan bisa melalui dua hal; yaitu secara struktural dan kultural. Secara struktutal, pemerintah telah menjadi agen untuk menciptakan pasar kapitalis melalui program-program pembangunan. Sedangkan secara kultural, masyarakat telah dihegemoni oleh konsep-konsep pembangunan yang materialistik dengan janji modernisasi dan kesejahteraan ekonomi.

Kedua hal tersebut tampak jelas dalam kasus rencana reklamasi Teluk Benoa. Pertama, keluarnya Perpres No. 51 tahun 2014 merupakan usulan gubernur Bali melalui surat tertanggal 23 Desember 2013 kepada pemerintah pusat. Surat tersebut, salah satunya, mengusulkan agar kawasan konservasi perairan Teluk Benoa ditinjau ulang sehingga dapat menjadi kawasan pemanfaatan umum. Kedua, seiring dengan langkah struktural itu, masyarakat mulai dihegemoni dengan pendekatan pembangunan modern yang mengedepankan isu pertumbuhan ekonomi. Gubernur mengampanyekan pulau baru hasil reklamasi ini akan membuka lapangan pekerjaan, menjadi destinasi pariwisata baru, dan para seniman Bali mendapat tempat untuk pentas di sana. Cara-cara seperti ini memang terkesan tidak konfliktual, bahkan cenderung optimistik. Tetapi, seperti diyakini Gramsci, pendekatan tersebut tatap merupakan bentuk kekuasaan secara kultural. Oleh karenanya, mengambil jarak dan mengkritisi rencana reklamasi ini adalah sebuah upaya mengawal kekuasaan dan proses demokrasi.

 

Bali Bergerak

Kita tahu selama hampir empat tahun belakangan ini, masyarakat Bali sedang berjuang menjaga Teluk Benoa yang di dalamnya terdapat sekitar 60 titik suci. Oleh PT. TWBI, Teluk Benoa akan diurug. Masyarakat Bali marah. Hampir setiap pekan, ribuan orang dari berbagai desa adat turun ke jalan untuk menyatakan penolakan terhadap rencana pengurugan Teluk Benoa.

Gerakan Bali Tolak Reklamasi sebenarnya bukan gerakan baru yang dilakukan oleh rakyat Bali dalam merespon model pembangunan yang tidak sesuai dengan kearifan lokal mereka. Sejak awal 1990-an, para investor sudah mulai tertarik untuk terlibat dalam ekonomi pariwisata di Bali. Buktinya, Gubernur Ida Bagus Oka (1988-1998) menjadi perantara yang kooperatif dengan investor sehingga sering dijuluki Ida Bagus “OK” (Nordolth, 2010).

Pada 1993, kasus Bali Nirwana Resort di dekat pura Tanah Lot yang didanai kelompok Bakrie menuai protes masyarakat Bali. Agenda pembangunan mega proyek tersebut mencakup hotel bintang lima, komdominium serta lapangan golf, dan menyebabkan sekitar 121 hektar lahan sawah harus beralihfungsi. Masyarakat Bali marah dan membuat gerakan protes, tetapi penguasa (melalui intervensi presiden Soeharto beserta perangkat militernya yang mendominasi ketika itu) mampu berkongsi dengan pemodal sehingga gerakan massa rakyat Bali menjadi padam. Rakyat Bali kalah telak oleh kekuatan kapital. Hal yang sama berulang ketika reklamasi Pulau Serangan.

Kendati sering diintimidasi, gerakan Bali tolak reklamasi untuk kasus Teluk Benoa bisa dikatakan sebagai gerakan yang solid dan teruji dalam waktu yang cukup panjang. Awalnya gerakan ini hanya diinisiasi oleh beberapa orang termasuk Walhi sebagai LSM yang mengadovaksi isu-isu ekologi. Kemudian masuklah beberapa seniman dan musisi Bali sehingga gerakan menjadi lebih besar. Anak-anak muda mulai tertarik terhadap isu ini. Lambat laun, gerakan mendapat dukungan dari beberapa desa adat di Bali. Bila pada awal kemunculannya mereka turun ke jalan menggunakan ‘pakaian preman’; maka saat desa adat ikut bersikap simbol-simbol adat seperti kain adat Bali mulai digunakan. Kesenian tradisional juga ditonjolkan. Hal ini menunjukkan gerakan tersebut bukan saja menjadi gerakan politik, tetapi juga gerakan kebudayaan.

 

Jaya Giri, Jaya Bahari

Wajar saja gerakan ini kemudian mendapat dukungan dari banyak tokoh adat di Bali. Orang Bali begitu menghormati laut. Agama Bali juga sering disebut sebagai agama air (tirtha) karena setiap ritual yang dijalankan hampir selalu berhubungan dengan air, dengan laut. Salah satunya kita mengenal istilah nyegara-gunung. Itu berarti peradaban agama Bali tidak hanya dibangun berdasarkan alam pikiran darat/gunung, tetapi juga alam pikiran laut. Bahkan ketika mausia Bali sudah mati, hubungannya dengan air tetap dijaga. Menurut kepercayaan orang Bali, sebelum menjadi Batara Hyang Guru, pitara harus dibersihkan dulu ke laut. Sebab, laut adalah simbol ibu; dan surga diyakini berada di telapak kakinya.

Pada bulan April 2015 saya menghadiri pameran seni rupa di Bentara Budaya Bali, Gianyar. Pameran mengangkat tema Asam Garam Bentara, sekaligus sebagai momentum 32 tahun Bentara Budaya. Tema ini rupanya mengeksplorasi konsep “Jaya Giri Jaya Bahari”. Sebuah harapan besar, menurut saya, demi terciptanya harmonisasi adab daratan (giri, gunung) dengan adab pesisir (bahari, lautan). Efix Mulyadi dalam pengantarnya terhadap pameran ini mengungkapkan laut punya konotasi negatif di dalam memori kolektif masyarakat masa kini. Pembangunan dan persoalan-persoalan dari adab daratan lebih mendominasi hingga sering muncul guyonan seperti “ah… hari gini galau karena mantan? Buang aja ke laut…”. Praksis kehidupan kita nyaris dikuasai oleh budaya daratan.

Rencana reklamasi Teluk Benoa juga menunjukkan kokohnya adab daratan. Ini miris, karena terjadi di negara kepulauan terbesar di dunia. Belum lagi negeri ini memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, terbesar kedua di dunia, dengan kekayaan ekosistem dan hayati yang tinggi. Padahal pada awal kepemimpinannya, janji politik Presiden Jokowi adalah membangun pusat maritim dunia. Pemerintah seharusnya lebih memberdayakan potensi bahari yang kaya itu demi mendapat kemanfaatan yang lebih baik.  Bukankah dulu, waktu kita kecil sering sekali kita mendengar sayup-sayup lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut? Saya curiga, jangan-jangan generasi saat ini tidak pernah lagi mendengar lagu itu karena kakekku sekarang adalah seorang pengurug.

Reklamasi Teluk Benoa adalah sebentuk wajah maskulin pembangunan modern yang tidak hanya mengabaikan sumber pengetahuan tradisional dan kearifan lokal, tetapi juga pemaksaan kehendak dan kesewenang-wenangan.

“…segalanya bersumber di laut. Tak ada yang lebih berkuasa dari laut. Nenek moyang kami juga bakal tidak ada kalau laut tidak ada. / … laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.” (Pramoedya Ananta Toer, dalam Gadis Pantai)

 

Widyartha Suryawan
(10-11 November 2016)

Agama dan Kemanusiaan

Tag

 “Religion is the opium of the masses.”

Kita tentu tidak asing dengan nukilan tersebut. Adalah Karl Marx, kawan Fredrich Engels yang juga sepuh komunisme modern, yang melontarkan sempalan itu. Menurut Marx, agama tidak lain merupakan bentuk keputusasaan dari orang-orang tertindas. Agama hanya akan menghambat terwujudnya cita-cita agung Marx akan masyarakat ideal tanpa kelas dibawah ideologi sama-rasa—sama-rata.

Saya pernah terpesona dengan ajaran ini. Bahwa kini saya tidak lagi tertarik dengan kiri, bukan berarti saya menolak mentah-mentah ide dan gagasan-gagasan kiri; atau menerima borjuasi dan bentuk kapitalisme lainnya secara membabi buta. Bagaimanapun, terbangunnya peradaban manusia hari ini tidak terlepas dari benturan komunisme dan kapitalisme di masa lalu. Itulah sebabnya, mempelajari sistem politik dunia – bahkan ilmu-ilmu sosial-humaniora – sangat sulit melepaskan pengaruh dan pemikiran Marx. Seperti kata Frans Magnis-Suseno, “pemikiran Marx juga menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi, dan filsafat kritis.”

Kutipan Marx di atas menarik saja dijadikan titik berangkat dalam melihat gejolak bangsa sebagaimana diberitakan banyak media belakangan ini. Sentimen keagamaan kembali muncul dan mengoyak wacana kebangsaan kita. Besok, 4 November 2016, Ahok konon akan didemo besar-besaran karena pidatonya dituding telah melakukan penistaan terhadap salah satu agama.

Saya tidak memihak Ahok ataupun orang yang menuding Ahok sebagai penista agama. Kasus tuding-menuding terjadinya pelecehan agama ini menarik perhatian saya karena tidak hanya terjadi kali ini. Terlebih lagi, setelah saya ingat-ingat, ternyata Bali punya riwayat tuding-menuding seperti dilakukan ormas yang menuding Ahok.

Tahun 2003, kelompok yang mengatasnamakan Forum Intelektual Muda Hindu Dharma Bali memprotes sampul buku serial Supernova, Akar, karya Dee Lestari karena memuat gambar Omkara. Dee pun mengklarifikasi bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud melecehkan simbol Hindu. Tahun berikutnya, 2004, kelompok yang sama menuding Iwan Fals telah melakukan penghinaan simbol Hindu. Sampul album Manusia Setengah Dewa yang memajang gambar Dewa Wisnu, oleh kelompok tersebut, dinilai sebagai sebuah pelecehan terhadap Hindu. Serupa Dee, pelantun lagu Bongkar ini meminta maaf kepada umat Hindu dan menyatakan tidak bermaksud menyinggung atau melakukan pelecehan terhadap simbol-simbol Hindu.

Pasca bom mengguncang Kuta pada 12 Oktober 2002 silam, sikap orang Bali umumnya juga terlihat sangat sentimen terhadap kaum ‘pendatang’. Pendatang inipun harus menggunakan tanda petik. Sebab, pendatang yang dimaksud khusus hanya nak dauh tukad (orang seberang pulau), bukan wisatawan asing. Nak dauh tukad distereotipkan sebagai perusak perekonomian Bali disaat industri pariwisata Bali sedang berjaya ketika itu. Terlebih lagi, Amrozi, cs. (alm.) – pelaku bom bunuh diri di Paddy’s Pub dan Sari Club, Kuta – kebetulan orang Muslim.  Sentimen terhadap nak dauh tukad itu berarti pula sebagai sentimen terhadap Muslim.

Untuk membentengi diri dari ancaman nak dauh tukad itu, muncullah gerakan macam ajeg Bali. Ajeg Bali dianggap sebagai bentuk Bali yang kuat dan otentik, sebuah Bali yang homogen. Gerakan ini dikampanyekan secara cukup masif. Oleh karena mayoritas penduduknya beragama Hindu, ajeg Bali sering disamakan dengan ajeg Hindu. Gerakan ini kemudian melahirkan gerakan sukla, sebagai respon sinis terhadap label halal yang dibawa pendatang Muslim di Bali.

Saya sendiri seorang Hindu-Bali. Meskipun pengetahuan saya tentang agama yang saya peluk tidak mendalam, kok rasanya saya sepakat dengan ucapan Gus Dur bahwa Tuhan tidak perlu dibela. Bagaimanapun, kita semua mengutuk segala bentuk teror dan kekerasan. Tetapi kita juga tidak setuju bila agama dibawa-bawa untuk melegitimasi kekerasan. Sama tidak setujunya bila kita memusuhi sebuah agama hanya karena segelintir umatnya yang menebar kebencian.

Kalau boleh saya simpulkan, rasa kemanusiaan kita jauh lebih purba ketimbang agama. Mungkin saya keliru. Tetapi, bukankah anak manusia lahir dari rasa cinta, hubungan manusia dengan manusia, baru kemudian ia dijejali dengan ajaran-ajaran agama?

Rasa kemanusiaan sebaiknya menjadi sesuatu yang final.

Widyartha Suryawan
(3 November 2016 – bersama Imagine-nya John Lennon)