Junjungan

Kita menanam fantasi di kepala masing-masing tentang tokoh ini atau tokoh itu. Selain tentu karena tempaan dari orang-orang terdekat, diri kita hari ini adalah bentukan tokoh-tokoh yang sering kita imajinasikan sebagai sosok ideal.

Kita mungkin pernah terkesima dengan kisah heroik Daud ketika melawan Goliath. Atau kisah kemenangan lima Pandawa ketika perang berkecamuk di Kurusetra. Atau barangkali kisah Marley ketika menghisap ganja bersama Tuhan — dan sebagainya, dan sebagainya.

Hari ini tokoh-tokoh junjungan kita bisa jadi adalah para selebgram, yang saban hari bersolek berkat endorsement, yang berfoto dengan latar belakang lanskap memesona, dan terkadang perlu sedikit memamerkan belahan dada.

Atau para vloger yang menampilkan kekonyolan hingga sesekali merasa perlu melempar sembako sampah ke seorang waria. Atau si dermawan yang haus publikasi hingga pendeta muda bergenta dengan caption foto bijak hasil colongan di internet. Lalu tiba-tiba muncul dengan gestur meyakinkan, bagai seorang mahasiswa baru yang petantang petenteng setelah membaca beberapa kalimat tentang Marx dari sebuah blog antah-berantah. (*)

Cumangoceh, 29 Juni 2020

Corona, Corona

Processed with VSCO with p5 preset

Rumah-rumah ibadah seketika sepi, bahkan ada yang ditutup sejak beberapa hari terakhir.

Kawan saya, yang biasanya salat jumat berjamaah di masjid, harus beribadah di rumah.

Kawan yang Kristen punya cerita: saat misa dua minggu lalu, ritus jabat tangan salam damai untuk sementara waktu ditiadakan, mencelupkan tangan ke air suci juga tak diwajibkan.

Demikian pula umat Hindu Bali. Turunnya Sang Kala Korona ke muka bumi mengharuskan prosesi melasti yang biasanya semarak dengan iring-iringan, kini dibatasi.

Arak-arakan ogoh-ogoh serta keriuhannya saat malam pengerupukan, ditiadakan.

Sasih Kesanga (bulan kesembilan dalam sistem penanggalan Bali) seakan mengingatkan kembali kisah-kisah mistis tentang merajalelanya wabah penyakit.

Nyaris tak ada otoritas agama yang tak tunduk untuk menghindari kerumunan umatnya yang pada hari normal selalu memenuhi tempat-tempat ibadah.

Merapal doa serta puja-puji pada Sang Maha – pada beberapa hari terakhir – cukup dari rumah masing-masing.

Saya menemukan gambar menarik di Twitter terkait kondisi ini. Dalam gambar tersebut, tampak tiga orang petinggi agama yang berbeda menunggu seorang pakar ilmiah sedang melakukan riset di depannya.

Kemudian gambar tersebut dipertegas dengan tulisan: All religions waiting for a positive response from Science.

Belum pernah saya saksikan ada wabah yang lebih mengerikan daripada apa yang terjadi saat ini.

Covid-19 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada akhir 2019 lalu, kini telah menjadi pandemi global.

Tak hanya orang-orang biasa; banyak pesohor, pejabat, selebritis, yang beragama, agnostik, atheis, dan sebagainya telah terjangkit wabah tersebut.

Awal Maret lalu, pemerintah Indonesia mengumumkan dua orang positif Covid-19 untuk pertama kalinya. Hanya dalam waktu dua pekan, jumlahnya melonjak tajam.

Data terbaru hingga 28 Maret 2020, sudah ada 1.155 kasus yang terkonfirmasi positif dan 102 orang meninggal dunia karena corona di Indonesia.

Sementara secara global, Johns Hopkins University & Medicine mencatat, 662 ribu telah terkonfirmasi positif dan 30 ribu nyawa dari 177 negara dinyatakan melayang akibat corona.

Statistik tersebut bisa jadi terus bertambah.

Untuk memutus rantai penyebaran virus corona, masyarakat diminta menghindari kerumunan (social distancing dan physical distancing) seiring meningkatnya jumlah kasus positif corona.

Sejumlah perusahaan memberlakukan kebijakan work from home bagi para buruhnya.

Di Bali, tak sedikit saya dengar ada pekerja yang dirumahkan tanpa dibayar, terutama para abdi pariwisata.

Sekolah-sekolah ditutup, para siswa diminta belajar di rumah. Tempat-tempat wisata menyusul ditutup.

Jalanan yang biasanya macet dengan suara klakson yang meraung-rangung, perlahan mulai lengang.

Di tengah banyaknya manusia yang menjerit — baik yang terjangkit corona maupun tidak — kabarnya, di masa karantina selama wabah corona ini, lapisan ozon justru mulai pulih.

Menurut New Scientist, lubang di lapisan ozon di atas Antartika terus pulih, yang menyebabkan perubahan sirkulasi atmosfer.

Mungkinkah corona adalah cara Semesta untuk memulihkan dirinya?

Membayangkan Pandemi Berakhir
Saat ini negara-negara di dunia sedang berusaha untuk mengakhiri pandemi ini.

China, sebagai negara yang pertama kali terjangkit corona, perlahan-lahan mulai pulih.

Italia kemudian sempat menyusul dengan catatan kasus positif Covid-19 terbanyak mengungguli Negeri Tirai Bambu itu.

Dalam beberapa hari terakhir, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 Amerika Serikat melesat jauh mengungguli kedua negara tersebut dengan 124 ribu kasus (per 28 Maret 2020). Sementara Italia 92 ribu kasus, dan China 82 ribu kasus.

Kita tidak tahu kapan pandemi ini berakhir.

Yuval Noah Harari penulis berkebangsaan Israel yang menulis trilogi ‘Sapiens’, ‘Homo Deus’ dan ‘21 Lessons for the 21st Century’ menyebut manusia tengah menghadapi krisis global – mungkin krisis terbesar generasi kita.

Dalam satu artikelnya yang dimuat di Financial Times baru-baru ini, ia percaya bahwa pandemi ini akan berakhir jika disongsong oleh solidaritas global.

Pertama dan terutama, kata Harari, untuk mengalahkan virus kita perlu berbagi informasi secara global. Itulah keuntungan besar manusia daripada wabah ini.

Harari melanjutkan: “Coronavirus di Cina dan coronavirus di AS tidak dapat bertukar tip tentang cara menginfeksi manusia. Tetapi Cina bisa mengajarkan banyak pelajaran berharga kepada AS tentang coronavirus dan cara mengatasinya.

“Apa yang ditemukan seorang dokter Italia di Milan di pagi hari mungkin bisa menyelamatkan nyawa di Teheran pada malam hari. Ketika pemerintah Inggris ragu-ragu antara beberapa kebijakan, itu bisa mendapatkan saran dari Korea yang telah menghadapi dilema yang sama sebulan lalu. Tetapi agar ini terjadi, kita membutuhkan semangat kerja sama dan kepercayaan global.”

Sekarang mari kita membayangkan jika pandemi ini telah berakhir. Tampaknya akan ada cukup banyak perubahan dalam kebudayaan manusia di waktu yang akan datang.

Lihat saja saat ini hampir seluruh manusia di dunia telah didisiplinkan pada masa pandemi ini.

Corona telah mengajarkan banyak hal yang tak hanya ihwal kesehatan, tetapi juga tentang relasi sosial, budaya, ekonomi, hingga konstelasi politik yang turut mengalami penyesuaian-penyesuaian.

Yang terdekat adalah cara kita memperlakukan orang lain juga telah berubah.

Manusia mulai membiasakan diri dengan hal baru yang tidak mereka lakukan ketika dalam kondisi normal.

Tak mudah memang menyambut hal baru ketika kita sudah merasa sangat nyaman dengan kondisi sebelumnya.

Terlebih lagi bagi mereka yang sudah menikmati keuntungan pada situasi sebelum pandemi.

Banyak yang mengutuk kondisi ini, tetapi Semesta terlalu digdaya.

Maka barangkali, inilah saatnya bagi kita semua, untuk berhenti sejenak sembari melihat Semesta bekerja. (*)

Untuk Yura

Bulan Kartika baru saja berlalu, tetapi musim panas tampaknya tak kunjung berganti.

Kamboja di pekarangan, juga flamboyan rindang di samping rumahmu masih bermekaran-merah-merekah menyertai suara tonggeret yang menyayat tersengat terik.

Kau dengar kabar dari Selasih, sayang?
Kau dengar pekik dan jerit mereka yang meronta?
Suara lirih petani Selasih tertelan deru mesin yang bising dan menyesakkan dada. Kehormatan, juga tanah leluhur mereka hendak dirampas.

Tak ada satu pun anak manusia yang ingin sumber kehidupannya dirampas.
Demikian aku, juga kau, kendati kini telah menjadi “kita”.

Kau gadis kecil lugu di ujung gang itu, yang menangis tersedu sedan saat ditinggal ibu dan bapak.

Kau bocah ingusan yang menghabiskan waktu sepanjang hari di bawah pohon kersen bersama sahabat-sahabat kecilmu.

Kau anak baru gede yang suka menyelinap diam-diam agar tak dilihat seisi rumah saat pulang larut malam.

Kaulah itu, perempuanku yang manja, yang kerap datang bersungut-sungut lalu bercerita panjang lebar tentang ini dan itu; kemudian tiba-tiba muncul lagi dengan kata-kata yang terlampau hemat.

“Semua laki-laki sama saja!” katamu, tak lama usai perjalanan singkat dari Penida.

Masalah-masalah kecil kerap menjadi pertengkaran hebat. Bahkan sesekali untuk hal-hal yang tak pernah kita mengerti. Itulah kita dalam semester pertama ini. Kadang terasa melelahkan, tapi asa harus tetap diperjuangkan.

Kita pernah mencintai seseorang yang bukan masing-masing di antara kita. Ada sejumlah orang yang pernah singgah di kehidupan kita — bermukim untuk beberapa musim — dan biarlah mereka berakhir sebagai kenangan.
Tak ada yang salah dengan kenangan, bukan?
Kita tak bisa benar-benar membunuh kenangan; sewaktu-waktu ia muncul menjadi hantu bernama ingatan.
Tak ada satupun kenangan yang manis, ia ditakdirkan pahit.
Maka hari ini, esok, hingga suatu hari nanti, aku tak ingin mengenangmu.
Sebab kenangan selalu soal kehilangan…

Widyartha Suryawan | 25/11/2019

Soundrenaline, Sebuah Ibadah (2)

Barasuara @Soundrenaline 2019

Barasuara @Soundrenaline 2019

Ibadah hari pertama sebenarnya belum tuntas saya rangkum pada tulisan sebelumnya. Saya bahkan tidak menyebut sejumlah nama besar seperti Padi Reborn hingga Suede. Saya tidak mengikuti kedua band itu. Penikmat musik amatiran seperti saya bahkan awalnya mengira Suede adalah merk sepatu. Ternyata bukan. Suede adalah salah satu headliners Soundrenaline 2019! Nista sekali rasanya hidup saya karena tidak pernah tahu karya-karya band asal Inggris itu – kecuali beberapa hari sebelum Soundrenaline. Dan, ketika pertama kali mendengar Beautiful Ones, asyik juga ternyata.

Penikmat musik amatiran seperti saya bahkan awalnya mengira Suede adalah merk sepatu.

Baiklah, saya akan melanjutkan catatan perjalanan ibadah Soundrenaline hari kedua.

8 September 2019
Jam 7 pagi, saya terpaksa melipat selimut dengan mata agak berat. Saya harus bekerja, agar dapat uang, agar bisa bertahan hidup. Sial sekali rasanya ritme hidup diatur-atur orang lain, berjam-jam dalam dekapan ketiak korporasi, agar pemilik perusahaan makin kaya raya. Haha.

Sial sekali rasanya ritme hidup diatur-atur orang lain, berjam-jam dalam dekapan ketiak korporasi, agar pemilik perusahaan makin kaya raya.

Setelah 8 jam berlalu, saya pulang untuk mandi, leyeh-leyeh sejenak, dan kembali menunaikan ibadah Soundrenaline ketika hari mulai gelap.

Ibadah hari kedua lebih menyita energi. Mobilisasi semakin tinggi. Rundown mepet-mepet, sejumlah penampilan jadwalnya bentrok. Akibatnya, ibadah menjadi tak begitu khusyuk. Belum lagi, teman perempuan saya tampak tidak nyaman. Entah dia bisa menikmati atau tidak. Sebelumnya juga sudah saya katakan padanya, jika dia tidak nyaman di hari pertama, saya bisa jalan sendiri pada ibadah hari kedua – sebagaimana saya lakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Tetapi dia bilang akan tetap menemani.

Sasaran pertama kami pada hari kedua adalah Celebration Stage yang diguncang oleh psychedelic green grunge unit Navicula! Saya selalu menikmati aksi panggung mereka. Pertama kali menyaksikan Navicula secara live sekitar tahun 2013 di Twice Bar (Poppies II). Ketika itu, Navicula masih digawangi oleh Gembul dan Made (alm.). Selepas itu, saya cukup intens mengikuti perkembangan Robi, Dadang, serta kini bersama Adi dan Palel.

Navicula @Soundrenaline 2019

Navicula @Soundrenaline 2019

Navicula adalah salah satu band dengan musik yang matang dan lirik yang tak kalah cerdas. Tentu sudah sangat banyak ulasan yang menyebut konsistensi mereka dalam mengangkat isu sosial-lingkungan melalui karya-karyanya. Saya menghormati cara mereka dalam melakukan aktivisme tanpa harus menjadi arogan dan merasa paling benar. Robi selalu tampil enerjik dengan orasi-orasinya dan artikulasi lirik yang jelas, bersih, dan menjiwai. Pada Soundrenaline 2019 mereka menyerukan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai; terlebih lagi Bali bukan pulau plastik.

Navicula adalah salah satu band dengan musik yang matang dan lirik yang tak kalah cerdas.

Puas berjingkrak dengan sejumlah lagu Navicula yang menghentak, kami bergegas menuju A Stage. Barasuara sudah berdiri di atas panggung. Sejumlah tembang dari album teranyarnya, Pikiran dan Perjalanan dibawakan. Saya sudah menyaksikan Barasuara secara live sebanyak 4 kali.

Entah kenapa, saya hanya terkesan ketika menonton mereka pertama kali pada 2016 silam. Kali kedua, ketiga, hingga keempat, saya merasa semakin jauh dengan Barasuara yang saya kenal. Tetapi, saya tidak membenci mereka. Saya akan tetap menunggu karya-karya Barasuara hingga getaran yang dulu pernah ada bisa kembali, lalu menunggang badai sembari membahas bahasa…

Barasuara @Soundrenaline 2019

Barasuara @Soundrenaline 2019

Barasuara masih memainkan sejumlah lagu ketika saya berpindah ke Creators Stage. Setelah dua penampil sebelumnya menyambar telinga dengan suara distorsi yang kencang, kini saatnya menyaksikan Mbakyu Danilla Riyadi – solois gokil yang mengaku sering dianggap sok asyik. Itu menjadi perjumpaan kedua saya dengan Danilla. Sayang sekali, kali ini saya merasa kurang intim menyaksikan Danilla. Musik macam Danilla yang mendayu-dayu itu, enaknya dinikmati sambil duduk-duduk lesehan. Tapi, ah, berdiripun tak masalah karena itu Danilla. Ya, demi Danilla seorang.

Sayang sekali, kali ini saya merasa kurang intim menyaksikan Danilla.

Danilla

Danilla Riyadi @Soundrenaline 2019

Setelah Danilla, sebenarnya ada Burgerkill, Fourtwnty, dan Shaggy Dog yang telah masuk list yang harus saya saksikan di Soundrenaline 2019. Karena sebuah pertimbangan, saya tidak jadi menonton Burgerkill. Demikian juga Fourtwnty dan Shaggydog yang jadwalnya benturan, bahkan dengan Efek Rumah Kaca. Secara musik, Fourtwnty lebih lembut dan Shaggydog lebih riang gembira. Tetapi, saya memilih Efek Rumah Kaca (ERK) yang lirik-liriknya lebih mendalam dan berjiwa.

Malam itu, Cholil, dkk. tampil memikat. Ribuan penonton bergemuruh mengikuti nomor demi nomor yang mereka bawakan. Lagu Tiba-tiba Batu yang dirilis beberapa hari sebelumnya juga tak luput dinyanyikan. ERK bikin baper. Parah. Saya bahkan belum bisa move on, bahkan hingga sampai pada kalimat ini. Saya berjanji, jika ada ERK ada gigs di Bali, saya akan hampiri mereka untuk bersama-sama menyanyikan Desember dengan lebih menghayati, atau mengepalkan tangan kiri lebih erat lagi ketika menyanyikan Di Udara.

Saya memilih Efek Rumah Kaca (ERK) yang lirik-liriknya lebih mendalam dan berjiwa.

Barasuara @Soundrenaline 2019

Barasuara @Soundrenaline 2019 (Btw, saya tidak punya dokumentasi ERK dan Feel Koplo, hehe…)

Pukul 00.00. Tibalah saatnya menunaikan ibadah penutup. Sejumlah lagu rohani yang mampu membuat sekujur tubuh bergoyang dan menari-nari mulai memanggil-manggil. Penonton senam bersama, badan harus dilemaskan. Feel Koplo! Meledak. Dari John Mayer hingga Rhoma Irama bersekutu dalam kolaborasa khas Pantura. Jemaah Koplo Indonesia (JKI) pun bersatu tak bisa dikalahkan. Penonton gembira, semua gembira. Semua bernyanyi, semua bergoyang.

Ya Tuhan, nikmat benar ibadah malam menjelang pagi itu.

Saya tahu, semuanya semu. Bahagia dan kegembiraan itu absurd. Seperti kata Chairil, hidup hanya menunda kekalahan. Sebelum benar-benar kalah, saya akan tetap menunggu ibadah Soundrenaline dan merayakan kembali absurditas hidup pada tahun-tahun yang akan datang…

Widyartha Suryawan | 12/9/2019

Soundrenaline, Sebuah Ibadah (1)

Soundrenaline 2019

A Stage Soundrenaline 2019

Saya baru saja usai menunaikan ibadah Soundrenaline. Khusyuk.

Empat tahun berturut-turut saya tidak pernah melewatkan ibadah tersebut. Memang banyak cibiran terkait penyelenggaraan Soundrenaline 2019: mulai dari publikasinya yang tak gencar di media sosial, line up-nya yang kurang greget dibandingkan dua tahun terakhir, hingga serangan 1001 malam dari penggebuk drum pujaan kita bersama.

Semula saya juga sempat berpikir jikalau Soundrenaline 2019 akan mengecewakan. Tetapi, setelah menjalani ibadah itu selama dua hari berturut-turut – meskipun tentu dengan catatan-catatan – saya masih menganggap festival ini layak untuk dijadikan ritual tahunan. The spirit of all time.

Tahun ini saya tidak datang sendirian. Saya menunaikan ibadah Soundrenaline dengan seorang teman perempuan, yang beberapa bulan terakhir menemani hari-hari saya.

Sabtu, 7 September 2019
Hari pertama Soundrenaline, saya sengaja mengambil libur dari rutinitas pekerjaan yang membosankan itu. Saya sudah menandai kalender jauh-jauh hari untuk tak melewatkan festival musik yang diklaim sebagai the biggest music festival in Southeast Asia.

Saya datang saat hari hendak menuju temaram; dan dengan demikian telah ketinggalan beberapa penampilan yang sebenarnya ingin saya saksikan seperti Tashoora (yang sekilas musiknya mirip Barasuara), Pee Wee Gaskins (untuk mengenang masa-masa SMA dulu), dan solois Adhitia Sofyan.

Perjamuan kudus petang itu dibuka dengan penampilan Bali Special Project, sebuah kolaborasi drum dan tabuh baleganjur Bali di panggung utama A Stage. Meriah dan bergetar.

Sekitar 30 menit berselang, Maliq & D’Essentials menggebrak panggung yang sama. Spesialnya lagi, tahun ini merupakan tahun ke-17 Maliq & D’Essentials berkiprah di industri musik tanah air. Sama seperti usia Soundrenaline yang menginjak remaja.

Maliq & D’Essentials

Maliq & D’Essentials @Soundrenaline 2019

Malam menjadi lebih bersahaja dengan lagu-lagunya yang membuat penonton sing along. Tak ketinggalan tembang teranyar Senja Teduh Pelita yang syahdu turut dibawakan. Lebih istimewa lagi, unit ini juga berkolaborasi dengan sejumlah musisi: Indra Lesmana, Tuan Tigabelas, dan Rekti Yoewono (The SIGIT). Maka terciptalah perpaduan berbagai genere music: jazz, pop, hiphop, rock, hingga dangdut! Petjah parah!

Maliq usai, saya dihantui perasaan nelangsa.

Maliq usai, saya dihantui perasaan nelangsa. Pilih Seringai atau The SIGIT – yang jadwalnya bentrok di stage berbeda. Akhirnya saya memutuskan untuk menonton The SIGIT di Celebration Stage. Selain membawakan sejumlah nomor dari album Visible Idea Of Perfection (2007) dan Detourn (2013), Rekti, dkk. juga memperkenalkan single terbarunya yang tak saya ingat judulnya. Sebagaimana tahun lalu, The SIGIT menutup penampilannya dengan Black Amplifier.

The SIGIT

The SIGIT @Soundrenaline 2019

Seringai

Seringai @Soundrenaline 2019

Belum habis Black Amplifier dikidungkan oleh Rekti, saya dan teman perempuan saya bergegas ke A Stage untuk menyaksikan pertunjukan singkat dari Indonesian heavy rock/metal unit Seringai. Karena panggung utama dipadati ribuan Serigala Militia, saya memilih menyaksikan dari jauh; sekaligus memastikan agar teman perempuan saya tetap aman dari permoshingan duniawi.

Tujuan berikutnya adalah menyaksikan aksi panggung .Feast – band rock asal Jakarta yang saya dengarkan karya-karyanya setahun terakhir. Perkenalan saya dengan .Feast bisa dikatakan tidak sengaja ketika berselancar di Youtube. Sebagai penikmat musik yang lebih mementingkan kekuatan lirik, saya langsung jatuh cinta dengan band ini, lalu mulai menjadi followers mereka di IG. Belakangan saya juga mendengarkan project solo vokalis .Feast, Baskara Putra dengan brand Hindia; dan selalu menanti single-single terbarunya.

Sebagai penikmat musik yang lebih mementingkan kekuatan lirik, saya langsung jatuh cinta dengan band ini

The SIGIT

The SIGIT @Soundrenaline 2019 (btw, saya tidak punya dokumentasi penampilan .Feast dan The Upstairs, hehe…)

.Feast membuka penampilannya dengan Berita Kehilangan yang dibawakan secara akustik. Ibarat choir, lagu pembuka tersebut mampu membuat penonton karaoke massal hingga jiwaku mengambang tinggi terus melayang-layang. Malam semakin hangat dengan kerlap-kerlip gawai yang dinyalakan lautan manusia di depan panggung.

Selepas lagu pembuka, .Feast mengajak penonton di Creators Stage berjingkrak dengan sejumlah lagu dari album Multiverses dan Beberapa Orang Memaafkan. Salah satu lagu yang saya jagokan dari unit rock ini adalah Sectumsempra – sebuah puisi yang dilagukan dan terinspirasi dari seri novel Harry Potter karya JK Rowling.

“Kau bedah ilmu hitam tak tertandingi / Kau tindak, kau tindas yang sayap kiri / Lidahmu setajam yang darah murni / Tak perlu kawan, kau jalani sendiri / Lawanmu pasti kau tebas mati dengan sihirmu/ SECTUMSEMPRA!”

Cadas dan membuat tubuh bergelinjang.

Hari pertama ibadah Soundrenaline ditutup dengan penampilan unit new wave, The Upstairs. Harus saya akui, malam itu saya sudah mulai lelah. Sebenarnya saya tidak bersemangat lagi untuk menyaksikan penampilan band ini. Musik mereka sebenarnya tidak masuk di telinga saya, kecuali satu-satunya nomor Matraman.

Sebab itu, saya memilih menyaksikan mereka dari kejauhan, sambil duduk-duduk, sembari menonton ribuan punggung dan pantat yang bergoyang di depan kami. Sialnya, lagu Matraman yang saya tunggu-tunggu justru dibawakan sebagai tembang penutup. Demi trotoar dan debu yang berterbangan, jadilah saya tertahan di Creators Stage hingga pentas usai ….

Widyartha Suryawan | 11/9/2019

Suara Saking Bali, Merawat Bahasa Ibu

Suara Saking Bali - Edisi I

Cover majalah Suara Saking Bali Edisi I, November 2016. (Sumber: suarasakingbali.com)

Suatu hari, kawan saya yang seorang jurnalis cum sastrawan muda berbakat mengirim pesan melalui aplikasi WA. Petikannya begini:

…Majalah puniki gratis, idadane nenten perlu naur sakadi naur parkir utawi naur sewa mawarih wiadin makoratan ring WC. Wantah perlu kuota kewanten majalah puniki sampun prasida kawacen….” (Majalah ini gratis, Anda tidak perlu membayar seperti membayar sewa WC untuk kencing atau berak. Hanya perlu kuota, majalah ini sudah bisa Anda baca.)

Menerima pesan itu membuat saya bagai pelanggan majalah yang saban terbit didatangi seorang loper. Pak Loper tak pernah meminta tagihan. Saya pun tidak pernah memberinya ongkos untuk sekadar uang jalan. Tetapi Pak Loper yang gigih itu tetap setia membawakan majalah itu ke rumah dan sampai di genggaman saya tiada terlambat.

Dia bukan sembarang loper. Laki-laki 25 tahun asal Karangasem itu pulalah penulis, pemimpin redaksi, perangkum naskah, editor, ilustrator, marketing, hingga distributor majalah Suara Saking Bali yang terbit dengan format digital (.pdf) sejak November 2016. Dialah kawan saya, Putu Supartika namanya, seorang pendekar Sastra Bali Modern (SBM). Saya selalu berterima kasih karena tak pernah absen dikirimkan majalah dengan format digital itu setiap bulannya.

Sejak mengenalnya pertengahan tahun 2018 silam, Putu selalu mengirimkan tautan dari suarasakingbali.com. Laman tersebut merupakan website berkonten bahasa Bali yang dia kelola di sela-sela kesibukannya sebagai seorang jurnalis. Website dan majalah yang dikelola Putu berisi berbagai kakawian (karya tulis) berbahasa Bali seperti esai, puisi, geguritan, satua Bali, satua masambung, hingga kartun. Melalui website dan majalah tersebut, kita dapat membaca karya dari sastrawan Bali senior macam Gde Dharna, Made Sanggra, Djelantik Santha – untuk menyebut sejumlah nama – hingga sastrawan Bali terkini seperti Made Sugianto, Made Suar-Timuhun, dan lainnya.

Dedikasi Putu terhadap SBM sebagaimana dalam pembuka tulisan ini tak perlu diragukan lagi. Putu Supartika adalah sosok pemuda Bali yang langka. Buku kumpulan cerita (pupulan satua cutet) pertamanya berjudul “Yén Bénjang Tiang dados Présidén” terbit pada 2014.  Terbaru, Putu bersama IDK Raka Kusuma menerjemahkan cerpen Meme Mokoh karya sastrawan Putu Oka Sukanta dari bahasa Indonesia ke bahasa Bali. Ketika orang-orang lebih memilih mempelajari bahasa internasional agar mampu bersaing dalam kompetisi global, Putu memilih menekuni sastra Bali yang meskipun telah disematkan kata ‘modern’ di belakangnya – tetap saja asosiasinya bagi masyarakat kebanyakan adalah sesuatu yang kuno.

Bagi saya, usaha Putu untuk membumikan sastra Bali di tempat kelahirannya adalah sebuah sikap yang patut dihormati. Mungkin ini terkesan berlebihan dan subjektif. Tetapi begitulah saya bisa mengapresiasi kerja kebudayaan yang dilakukan Putu. Ia bahkan tak pernah berpikir untuk mendapat keuntungan finansial dari penerbitan majalah Suara Saking Bali. Bahkan, Putu pun seharusnya tahu bahwa majalah yang dia kelola sulit terdengar gaungnya. Sekadar menggaet pembaca saja, rasanya tetap susah. Terlebih lagi, minat baca dan tingkat literasi masyarakat Indonesia yang jauh masih rendah.

Pada Maret 2016, Central Connecticut State University melakukan survei tentang minat baca orang-orang dari 61 negara. Adapun indikator pemeringkatan minat baca dalam survei itu antara lain adanya perpustakaan yang memadai, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan teknologi.

Bagaimana hasilnya?

Berdasarkan survei tersebut, Indonesia menempati urutan ke-60 dan hanya unggul satu peringkat di atas Botswana. Lima urutan teratas untuk minat baca adalah Finlandia, Islandia,  Denmark, Swedia, dan Swiss. Adapun negara-negara tetangga mendapat peringkat yang lebih baik dari Indonesia. Singapura berada di urutan ke-32 dan Malaysia menempati ranking ke-53.

Kendati tingkat literasi masyarakat tergolong rendah, geliat Sastra Bali Modern tak bisa dikatakan sedang lesu atau terpuruk begitu saja. Guru besar Fakultas Sastra Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Darma Putra dalam makalah berjudul “Makin Ramai Berkat Rancage: Seratus Tahun Perkembangan Sastra Bali Modern” justru menyebut perkembangan SBM semakin menggeliat sejak akhir 1990-an. Terlebih lagi, Sastra Bali Modern dimasukkan sebagai salah satu kategori penerima hadiah sastra Rancage dan bersanding dengan sastra daerah Sunda, Jawa, dan Batak. Sejak itulah penerbitan karya sastra Bali modern lebih semarak.

Menurut Prof. Darma Putra dalam makalahnya itu, jika dirata-ratakan dalam 10 tahun terakhir setelah SBM dimasukkan ke dalam kategori Rancage, setidaknya ada 8 buku sastra terbit per tahun. Jumlah yang mungkin tidak tergolong banyak, tetapi cukup menggembirakan dibanding pada periode sebelumnya. Sejumlah penulis baru pun bermunculan untuk menyemarakkan dunia Sastra Bali Modern. Satu di antaranya adalah Putu Supartika. Atas dedikasinya terhadap Sastra Bali Modern, ia pun terpilih sebagai salah satu penerima Hadiah Sastra Rancage (2017).

Merawat Bahasa Ibu
Geliat penerbitan karya Sastra Bali Modern baik melalui media massa maupun dalam bentuk fisik (buku) memang menjadi angin segar bagi eksistensi bahasa Bali. Terlebih lagi, cukup sering terdengar kabar bahwa nasib bahasa Bali sebagai Bahasa Ibu nyaris seperti anak tiri. Hal itu misalnya, tercermin dari minimnya peminat jurusan Sastra Bali di Universitas Udayana. Jurusan ini menjadi salah satu dari empat program studi yang kuotanya tak terpenuhi yaitu prodi Sastra Jawa, Arkeologi, Pertanian, dan Sastra Bali. Namun demikian, terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa jumlah penutur Bahasa Bali semakin mengkhawatirkan hanya karena sepinya peminat jurusan Sastra Bali rasanya juga kurang tepat. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan dugaan tersebut.

Di tengah itu, Pemerintah Provinsi Bali telah mengambil langkah tepat terhadap keberadaan bahasa Bali melalui keluarnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Pergub yang dikeluarkan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster ini merupakan sebuah upaya menjaga dan melestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui penelitian, pengembangan, pembinaan, dan pengajarannya. Sebagaimana disebutkan pada pasal 2 Pergub ini, pelindungan bahasa, aksara, dan sastra Bali dilakukan melalui inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, penyelamatan, dan publikasi.

Pertanyaannya kemudian, apakah sedemikian mendesaknya penerbitan Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tersebut? Bukankah bahasa Bali tak akan goyah dan tetap lestari karena selalu digunakan dalam kegiatan-kegiatan adat dan upacara keagamaan di Bali?

Bagaimanapun, sebuah kebijakan publik akan selalu menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Terlepas dari itu, Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tetap dipandang perlu. Terlebih lagi, pelestarian dan pengembangan bahasa daerah juga diatur dalam Permendagri Nomor 40 Tahun 2007. Permendagri ini mengatur tugas kepala daerah untuk mensosialisasikan penggunaan bahasa daerah serta memelihara sistem kebahasaan yang digunakan oleh komunitas/kelompok masyarakat sebagai unsur kekayaan budaya.

Jika dicermati lebih jauh, sekalipun berisi seperangkat aturan, Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 juga mengandung apresiasi terhadap pegiat sastra dan penekun bahasa Bali. Hal itu tercantum pada pasal 12 poin (1) bahwa Pemerintah Provinsi nantinya akan memberikan penghargaan kepada perseorangan, kelompok, dan/atau lembaga yang berjasa terhadap pemajuan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Penghargaan yang diberi nama Bali Kerti Nugraha Mahotama itu akan diberikan setiap tahun kepada sebanyak-banyaknya tiga orang penerima serangkaian Bulan Bahasa Bali. Dengan demikian, pegiat sastra dan penekun bahasa Bali yang selama ini bekerja dalam senyap dapat diperdengarkan gaungnya.

Pemberian penghargaan seperti itu perlu dilihat secara positif agar pegiat sastra Bali terus berkarya dan menghasilkan karya yang berkualitas. Kelak, penghargaan tersebut bisa saja menjadi ajang bergengsi seperti keberadaan Hadiah Sastra Rancage. Memang, sesorang yang sungguh-sungguh berdedikasi biasanya akan terus berkarya, entah mendapat penghargaan atau tidak. Tetapi, pemerintah sebagai Guru Wisesa telah mengambil langkah untuk mengapresiasi anak-anaknya yang giat melahirkan karya sastra Bali dan berdedikasi terhadap kemajuan Bahasa Bali. Berikutnya, yang lebih penting dari semua itu adalah menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Bali sebagai identitas orang Bali.

Pada titik inilah, saya rasa Putu Supartika bersama tim melalui Suara Saking Bali-nya yang konsisten terbit dalam format digital telah berbuat untuk kemajuan bahasa dan sastra Bali. Cerita atau jenis tulisan berbahasa Bali lainnya yang semula sulit ditemukan, kini berkat Suara Saking Bali yang terbit melalui platform digital bisa diakses dengan mudah, kapan saja, di mana pun. Ada ungkapan, jejak digital akan sulit dihapus tetapi mudah dilacak. Begitulah Suara Saking Bali yang menjadi ruang arsip maya bagi karya sastra Bali.

Begitulah kawan saya yang lulusan Pendidikan Matematika Undiksha Singaraja itu menulis sekaligus mengumpulkan naskah Sastra Bali Modern dari penulis lain sebagai sebuah kerja kebudayaan. Sebuah upaya untuk merawat bahasa Ibu. Maka, Putu dan kawan-kawan pegiat sastra lainnya sebenarnya sedang bekerja untuk sebuah keabadian. Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (*)

Widyartha Suryawan | 28/7/2019

Samsara

:Louis

Kita tak pernah benar-benar paham
Kapan dan pada Rahim siapa akan dititipkan
Bersama empat saudara mungil
Tangis yang magis, tawa yang bersahaja

Kita tak pernah benar-benar paham
Berapa kali akan dititipkan pada Rahim siapa
Punarbhawa dan setumpuk hutang masa lampau

Samsara,
siapa yang tahu kelak Cahayamu berpijar dari langit Jerusalem? — dan masih adakah perjumpaan itu setelah mata terkatup?

(Kamarsaya, 5/7/2019)

Sedikit Cemas, Banyak Rindunya

“Sekarang tanggal berapa?” bisikmu di telingaku.

Aku mengangkat bahu. Sementara motor melaju pelan, aku memalingkan pandangan ke arahmu.

Seperti biasa, kamu lekas menutup wajah dengan jemari ataupun membiarkan ponimu yang panjang itu menghalau pandanganku. Itulah sebabnya aku tidak pernah benar-benar bisa menatap matamu yang lentik.

“Jangan tatap begitu,” pintamu, kemudian mengulangi pertanyaan itu sekali lagi, “sekarang tanggal berapa?”

“Dua-enam,” jawabku.

“Tadi?”

“Mungkin dua-lima.”

“Hmmm.”

“Kenapa?”

“Dua-lima.”

“Peluk aku lebih erat, sayang.”

“Kamu kedinginan?”

“Aku tidak pernah merasa kedinginan bersamamu.”

“Ah,” kau memukul bahuku sebelum akhirnya melingkarkan tangan di tubuhku.

Dalam perhitungan waktu universal (masehi), pukul 00.01 mungkin dianggap bahwa hari telah berganti. Atau tepatnya tanggal sudah berganti.

Tetapi, sayang, dalam konsep perhitungan di Bali, hari disebut berganti (ngawit rahina) ketika  ‘galang kangin‘ — saat matahari terbit.

Tetapi aku tidak peduli itu. Sebab, hari-hari yang akan datang adalah ketidakpastian: ada amuk badai, angin yang marah, atau kemarau kering yang melelahkan. Kita harus kuat melewati musim-musim yang tak menentu itu sembari berharap musim semi akan abadi dan kita akan merayakannya dengan ciuman yang panjang…

Kamarsaya, 28/5/2019 | Widyartha Suryawan

Karya Suci dan Pentas Politik yang Banal

Senyum Pan Kerug mengembang karena karya ngenteg linggih di paibon-nya sukses dihelat. Lelah berhari-hari dan letih bermalam-malam para warga di keluarga besarnya untuk menyiapkan rangkaian karya, terbayarkan sudah.

Inggih, krama paibon tityang sareng sami (Baiklah, keluarga besarku semuanya). Sane mangkin karya sampun puput (Sekarang upacara sudah selesai). Semua berjalan lancar, labda karya sidaning don,” ucap Kerug disambut gemuruh tepuk tangan warga di paibon-nya.

Sebagai ketua panitia karya, Kerug tidak saja dianggap sukses menjalankan mandat. Ia juga berhasil mendatangkan beberapa ‘orang asing’ yang bersedia hadir di tengah-tengah keluarga besarnya, berbaik hati, dan tak lupa berderma dalam karya suci itu.

Pan Kelor – seorang anggota paibon yang sehari-hari bekerja sebagai engineering di sebuah hotel – juga bersyukur tak kepalang. Karya yang menghabiskan biaya tak sedikit itu ternyata tak cukup mengoyak keadaan ekonominya.

Pikirannya sedikit lebih tenang. Sejumlah uang yang awalnya dia sisihkan untuk membayar iuran karya, tak jadi dibayarkan semua. Sebab, beberapa ‘orang asing’ yang datang saat puncak karya, membawa segempok uang.

“Perlu tiyang laporkan, krama paibon tityang sareng sami, keuangan kita dalam karya ini surplus! Patut disyukuri, dalam karya ini kita tidak buntung; melainkan untung!” Kerug semringah melanjutkan laporannya – sorak dan tepuk tangan warga pun terdengar semakin bergemuruh.

Fenomena tadi acap terjadi di Bali hari-hari belakangan ini. Terlebih lagi, saat ini merupakan tahun politik yang sebentar lagi akan dilanjutkan dengan Pemilu serentak. Kerumunan warga – termasuk upacara adat yang melibatkan massa, bahkan acara pernikahan – adalah santapan yang gurih untuk meraih dukungan; dan syukur-syukur mendulang suara.

Bersama tim suksesnya, para calon legislatif yang berlaga dalam Pemilu serentak bergerilya dari paibon ke paibon, dari banjar ke banjar dengan dibalut istilah simakrama.

Mereka menyerupai orang asing yang tiba-tiba muncul di tengah kerumunan warga dan mencitrakan diri sebagai seorang dermawan yang layak dipilih saat hari pencoblosan. (Sekadar catatan, Sugi Lanus dalam sebuah esainya menelusuri terjadinya lompatan makna simakrama yang semula berarti ‘silaturahmi’ menjadi sekadar sowan politik “…yang penuh motif kekuasaan dibanding murni tanpa muatan kekuasaan.”).

Setelah simakrama atau bertatap muka dengan warga dalam sebuah kerumunan massa, adegan diakhiri dengan penyerahan catu (uang, terkadang dengan amplop) yang ditaruh di atas canang oleh Sang Caleg kepada perwakilan pemilik hajatan.

Bila sudah begitu, sontak riuh tepuk tangan tak terbendung. Acara simakrama diakhiri dengan sesi foto bersama, sembari menunjukkan gaya khas masing-masing (misalnya dengan mengancungkan tangan untuk menunjukkan nomor urutnya yang tercantum dalam surat suara saat hari pencoblosan nanti).

Cara-cara menarik simpati massa tidak hanya dilakukan di level paibon, tetapi juga telah masuk ke banjar-banjar maupun desa adat. Bukan sesuatu yang mengherankan terlebih lagi bila kelian banjar atau kelian adat tersebut pada dasarnya telah tergabung dalam partai politik tertentu sebelumnya.

Bahkan, tempat suci seperti pura sekalipun menjadi sasaran para Caleg untuk meraih dukungan. Dia bisa datang saat pujawali, atau sering pula kehadirannya itu untuk memenuhi undangan yang secara khusus dilayangkan oleh panitia pujawali. Sekalipun ikut sembahyang ketika hadir saat pujawali di sebuah pura, tetapi Sang Caleg kerap diperlakukan sebagai ‘Pemedek yang Lain’.

Kedatangannya disambut secara khusus. Petinggi desa adat atau tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan pura akan menjabat tangan Sang Caleg, ‘Sang Pemedek yang Lain’ itu, lalu bercengkrama di tempat yang telah disiapkan secara khusus.

Acara seperti ini akan diakhiri dengan adegan yang sama: menyerahkan segempok uang yang ditaruh di atas canang. Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.

Politik praktis, terlebih menjelang Pemilu, memang sering menyerupai drama penuh intrik dan manipulatif. Fenomena tadi bahkan menunjukkan bahwa politik praktis telah menunjukkan wajahnya yang paling banal, karena aktivitasnya telah menyelinap ke ranah ritual-ritual keagamaan yang seharusnya bersifat sakral dan bersih dari kepentingan politik.

Di beberapa wilayah di Bali, tanggung jawab beryadnya yang semula adalah wujud rasa bhakti tiap-tiap umat sebagai individu – yang sering pula dirasakan sebagai beban ekonomi – kini terasa sangat enteng. Tidak ada lagi iuran untuk menghelat sebuah ritual adat-agama, karena beban-beban ekonomi untuk ‘yadnya’ itu  telah ditanggung oleh para pejabat dan orang-orang politik yang mengejar kekuasaan.

Aktivitas adat-agama di Bali pun menunjukkan dirinya yang tidak terlepas dari kekuatan capital; dan keduanya saling berkelindan dengan proses-proses politik.

Padahal, jika kesungguhan beragama seseorang dinilai dari rasa thulus dan ikhlas, maka yadnya seharusnya dilakukan dengan kesungguhan hati yang paling dalam – sesederhana apapun itu, bukan malah mengandalkan bantuan dari Caleg.

Lihatlah balai banjar yang gagah, pura yang megah, hingga karya ngenteg linggih, kerap dibangun menggunakan uang pejabat maupun Sang Pemedek yang Lain itu.

“Sekali lagi kami imbau, seluruh krama pangempon pura agar ketog semprong datang ngaturang bhakti saat puncak pujawali. Apalagi kami sudah mengundang Pak Bupati secara khusus dan beliau memastikan akan hadir…” demikian pengumuman panitia pujawali.

Ne mara… Pokokne SSCGT (sangat super cenik gae to)…” sahut salah seorang warga yang dalam benaknya sudah membayangkan Pak Bupati yang bares itu tidak akan lupa membawa segempok uang. (*)

Widyartha Suryawan | 15 Maret 2019

1941

Hujan turun rintik-rintik sejak pagi. Seakan nyaris tanpa jeda, kondisi seperti itu bertahan sampai malam hari. Jadilah kembali meringkuk di atas ranjang dan selimut tidur rasanya belum tepat untuk dilipat.

Di luar, sesekali terdengar angin bergemuruh. Tak ada gugusan bintang bertaburan di langit malam yang kelam. Juga mustahil bisa menonton cahaya terbang yang konon pertanda ada perang ilmu kesaktian.

Demikianlah hari pertama di tahun baru saka 1941 harus dilalui. Pawai ogoh-ogoh, sorak sorai, suara baleganjur yang saling bersahutan, juga cetag-cetug sound system yang menemani berkrat-krat bir — adalah keriuhan semalam yang harus kembali menuju senyap.

Bali bisu sehari bagai pulau mati. Di era postmodern, perayaaan Nyepi di Bali adalah sebuah zoom in narasi kecil, sebuah keberanian melawan dominasi dunia yang bergerak semakin cepat. Manusia harus menyingkir, suung sejenak, memberi kesempatan kepada alam agar leluasa bernapas.

Sebuah penelitian menyebut, terjadi penurunan konsentrasi partikulat dan gas polutan saat Nyepi. Tahun 2017, rata-rata penurunan konsentrasi gas monoksida sebesar 87 persen dibanding hari lain di luar Nyepi. Demikian pula konsentrasi karbon dioksida pada Nyepi tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 24 persen.

Kendati belum berpengaruh signifikan terhadap pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara global, Bali tetap dipuji dan tak ada yang boleh mengganggu khidmat Nyepi di Bali.

Pun, tidak cukup hanya memutus siaran TV dan radio. Sejak 2018, jaringan internet juga diputus sehari penuh. Kebijakan ini diambil oleh PHDI dengan alasan sering terjadi polemik, penghinaan, ujaran kebencian, raja pisuna, di media sosial. Gaduh dan ribut-ribut di media sosial itu, dinilai mengganggu jalannya Catur Brata Penyepian.

Sebagian orang menyambut kebijakan pemutusan jaringan internet tersebut. Sebagian lagi menyayangkan, karena seharian penuh diet internet membuat mereka mati gaya. Terlebih lagi jika pada dasarnya mereka sudah kecanduan bermain internet, sedikit-sedikit scroll; dan relasi sosial di kehidupan nyata dianggap tak lebih penting dari dunia maya.

Sesungguhnya tak ada yang benar-benar senyap saat Nyepi. Raga boleh ‘terpenjara’, tetapi pikiran masih leluasa mengembara.

Ada yang merayakan Nyepi, tetapi karena roda industri tak boleh benar-benar berhenti, mereka wajib tetap bekerja dan menjadi pelayan di tempat kerja. Ada pula yang meskipun berkumpul bersama keluarga, pikirannya dihantui oleh bayang-bayang hari esok: gaji selalu terasa tak cukup untuk biaya hidup sehari-hari, melunasi cicilan, dan ketakutan dikejar-kejar setan kredit.

Dalam senyap yang tak benar-benar senyap itu, Nyepi bisa menjadi momentum untuk kembali memaknai waktu. Dalam konsep Hindu, waktu disebut kala. Tak ada satupun manusia yang bisa menguasai atau menundukkan Kala.

Tetapi alam pikiran manusia modern menganggap bahwa waktu adalah uang — time is money, kata orang Barat. Segala sesuatunya harus diringkas, dibuat serba praktis dan efisien. Karena dikuasai pikiran instan, banyak hal pada akhirnya dilakukan tanpa peduli marka — sehingga hidup pun sekadar untuk dinikmati hari ini. (*)

ruangkerja, 10 Maret 2019 | Widyartha Suryawan